Summer

Juni 17, 2022


Busway
yang kutumpangi melaju di atas jalan layang melintasi kota Jakarta, menuju ke arah barat tempat matahari sedang bersiap menjemput malam. Biasanya aku benci lewat jalan layang ini karena pagar pembatasnya yang norak dicat hijau dan kuning. Namun, hari ini aku tidak keberatan karena distraksi itu tidak ada apa-apanya dibanding pemandangan langit Jakarta yang perlahan menjadi jingga.

Ponselku memutar lagu “Summer” dari band Jannabi, liriknya menganalogikan cinta dengan musim panas. Ada apa dengan cinta dan musim panas? Banyak film dan drama romansa berlatar di musim panas. Salah satu film favoritku, “500 Days of Summer” bahkan menamai love interest tokoh utama dengan kata "summer".

“Sebenarnya, kamu bukan orang pertama yang tanya ke aku soal ini,” kata-kata Melly tiba-tiba terngiang lagi di kepalaku. 

Pagi ini aku berkunjung ke rumahnya di Kampung Rambutan untuk sekadar bertemu teman baik setelah setahun terpisah karena pandemi. Juga untuk menanyakan Summer-ku, seseorang yang sudah kusukai sejak lama dan kini bekerja bersama Melly. Seiring usia yang semakin bertambah, aku perlu kepastian tentang rasa ini. Should I end it here, or is it still worth continuing?

“Setahuku dia…”

Menanyakan statusnya secara langsung adalah hal terakhir yang terlintas di benakku. Pertama, karena aku sendiri tidak yakin apakah aku siap untuk menjalin hubungan bila hati kami bersambut. Kedua, tentunya karena takut ditolak. Aku yang biasa-biasa saja ini tidak pantas bila disandingkan dengannya yang menawan dan berprestasi. Diri ini tidak ada apa-apanya dibanding perempuan-perempuan lain yang juga menyukainya. Aku terus berusaha menghancurkan impianku sendiri, berkali-kali membayangkan hari ia mengumumkan pernikahan dengan wanita lain. Aku juga kembali mengingatkan diriku sendiri bagaimana dua tahun ini telah berlalu tanpa ada interaksi sama sekali di antara kami.

Akan tetapi, meski sangat tidak percaya diri, harapanku untuknya tidak pernah mati. Tidak ketika aku masih ingat saat-saat pandangan kami bertemu, atau ekspresi wajahnya yang canggung ketika menyapaku, atau pesan singkat darinya yang tiba-tiba menanyakan keberadaanku, atau perbincangan terakhir kami tentang rencana masa depan masing-masing yang panjang.

Apakah aku masih memiliki peluang?

“Setahuku, nih ya,” kata Melly perlahan. Ia akhirnya menjadi orang yang kupercaya untuk menjawab rasa penasaran ini. Bisa kurasakan ia berhati-hati memilih setiap kata yang hendak diucapkannya.

It’s okay, Mel. Just say it. I need to know…

“dia lagi suka sama temen SMA-nya dulu.“

“Oh, gitu…” kata-kata itu langsung keluar dari mulutku, tetapi kepalaku terasa kosong. 

“Iya… Jadi, saranku kamu segera move on aja, sih,” lanjut Melly sambil menggendong anaknya yang baru berusia enam bulan. Sebagai seseorang sudah menikah dan mengalami jatuh bangun sebelum akhirnya bertemu suaminya, Melly pasti lebih bisa menilai apakah perjuangan temannya yang lajang ini layak untuk dilanjutkan. Ada baiknya aku mengikuti sarannya.

“Eh, jangan sedih…” kata Mel dengan wajah agak khawatir ketika aku hendak berpamitan. Apakah sedari tadi aku banyak diam?

“Ih, enggak kok, santai aja. Lagian aku udah sering ngebayangin ditolak, hehe. I’m fine,” jawabku sembari menarik senyuman untuk menenangkan Mel. Aku pun undur diri.

Selepas dari rumah Melly, aku masih sempat bertemu dengan beberapa teman kuliahku di sebuah cafe . Kami berdiskusi seru tentang banyak hal, dari buku hingga transportasi publik Jakarta yang menyebalkan. Setelah satu setengah jam, teman-temanku pergi lebih dulu dan aku tinggal di cafe lebih lama untuk melanjutkan novel yang sedang kubaca. Aku bangkit pukul setengah lima dan berjalan menuju halte busway terdekat, menyusuri jalan-jalan kampung, menyentuh daun-daun tanaman yang menjuntai melampaui pagar, sesekali mengambil foto bunga dengan berbagai warna, seperti yang biasa kulakukan.

Di dalam busway, aku mencoba untuk membaca lagi. Namun, begitu bus menaiki jalan layang, perhatianku dicuri pemandangan langit senja Jakarta yang kuceritakan tadi. Kuperhatikan deretan gedung dan bangunan yang mulai terlihat gelap seiring bayangan menyelimutinya. Seperti bus ini, ratusan kendaraan bergerak beriringan ke arah barat, membawa orang-orang yang hendak menutup harinya. Lagu “Summer” milik Jannabi mengalun dari earphone-ku.

“Back then…” 

—kira-kira begitu bait pertama lagu tersebut bila diterjemahkan ke bahasa Inggris.

“What must have I been thinking
To be able to smile
After giving you my everything”

Kurasakan pandanganku mulai buram. Kepalaku selayaknya bioskop yang memutar seluruh kenangan yang kumiliki dengannya.

“What must have you been thinking
To be able to turn your back on me
After taking it all”

Aku menangisi masa mudaku yang kuhabiskan untuknya. Aku menangisi diriku yang merasa rendah karena dirinya.

“The hot summer night has gone
And what's left is no good to see”

Musim panasku telah berakhir.




bersambung ke "Goodbye, Summer"

You Might Also Like

1 comment

Subscribe