Review Singkat Transportasi Ibukota

Juni 21, 2022

Ketika dunia masih sekecil Magelang, jasa angkot sudah cukup mewadahi kebutuhan mobilitas saya. Saat saya mulai pindah ke Yogyakarta dan kebutuhan saya mulai beragam, busway tidak mampu lagi menjembatani hal itu, dan saya pun membawa motor ke mana-mana. Saat saya berkesempatan ke luar negeri adalah momen saya akhirnya paham bagaimana transportasi umum seharusnya bekerja. Saya bisa pergi ke mana pun dan akan selalu ada angkutan umum dengan jadwal yang selalu bisa diandalkan dan diakses via Google Map atau aplikasi transportasi lokal. Kalaupun saya harus jalan, itu tidak pernah lebih dari 20 menit. Dan itu semua bisa diakses dengan mudah bahkan oleh saya yang notabene orang asing.

Pindah ke Tangerang di tahun 2020 menjadi momen untuk saya sepenuhnya mencoba berbagai moda transportasi di Jakarta dan sekitarnya. Walau sudah ada aplikasi Trafi dan Moovit (sayang sekali, bahkan yang selevel Google Map gak sanggup memetakan moda transportasi kita), mobilisasi menggunakan transportasi umum masih cenderung sulit dilakukan. Tidak semua tempat dijangkau angkutan kota, metode dan moda pembayarannya tidak seragam, kondisi angkutan tidak selalu memadai/layak, jadwal belum akurat, informasi titik transit tidak selalu jelas, dan masih banyak kendala lain. Saya tidak bisa membayangkan kalau ada orang asing main ke Indonesia, pasti mereka bingung setengah mati.

Suatu saat saya pernah ngobrol dengan orang Jakarta yang sejak kecil sampai akhirnya bekerja selalu tinggal kota ini. Dia agak tersinggung ketika saya bilang transportasi umum Jakarta masih belum terintegrasi dan terfasilitasi dengan baik. Dia merasa kondisinya sekarang sudah sangat oke. Ya, betul, kalau dilihat perkembangan internalnya saja. Namun, andai ia mau belajar sedikit saja tentang urban design/planning dan mendapat kesempatan untuk main ke luar negeri, barang ke Singapura atau Malaysia saja, niscaya dia akan tahu that we need to dream more, dia akan paham betapa banyaknya PR yang harus digarap pemerintah untuk menghadirkan transportasi publik yang nyaman dan bisa diakses seluruh kalangan.

Namun, hal tersebut bukannya mustahil untuk dilakukan. Saya sendiri merasakan ada semangat yang cukup besar untuk mencapai hal tersebut, tetapi memang perlu sabar. Sebagai masyarakat biasa, mungkin kita bisa belajar untuk menggunakan dan merasakan sendiri pengalaman naik transportasi umum, saling mengingatkan dan menumbuhkan kesadaran akan fasilitas yang lebih baik. Then hopefully, we may start to bid farewell to kemacetan.

You Might Also Like

0 comment

Subscribe