Rabu, 05 April 2017

Pungguk yang Benci Merindukan Bulan

Allah
Ampuni aku

Karena terus memikirkan dia
Yang maknanya tak lebih jelas daripada maknaMu di hidupku
Yang tak punya kepastian atau jaminan terhadap hari esokku

Ampuni aku

Karena bahkan ketika setidakpasti itu
Mata ini terus mengikuti ke mana ia pergi
Kaki ini tergerak ke mana kakinya menapak bumi

dan ampuni aku

Karena lebih parah dari itu
aku membencinya yang kini berlari
dan aku membenci diriku yang tak mampu menyamai langkahnya lagi

atau membenci dia yang belok ke kanan
dan aku yang terhenti karena ingin belok ke kiri

 

Rabu, 5 April 2017
Studio Tematik, DTAP
Ketika seharusnya mengerjakan progress studio untuk presentasi esok hari

Senin, 20 Februari 2017

Self-Consiousness: Dalam Pencarian Jati Diri

Kesadaran diri, is when you start to feel numb
ketika semua terasa hambar, bahkan ketika ragamu sibuk melakukan banyak hal,
lalu kamu bertanya:

"what i am doing right now?"

at first, kamu menganggap lalu pertanyaan itu, atau kamu jawab sekenanya, 

"ya kerja lah, ya sekolah"

namun, kehambaran itu malah semakin menjadi-jadi

"tapi buat apa?"

akhirnya kamu bertanya lagi, berkali-kali

"apa sebenarnya yang aku lakukan ini?"


https://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160218/sibuk-ef86952a00ed2cceab6e0c6c672dc956.jpg
cr: https://cdn.idntimes.com/content-images/
post/20160218/sibuk-ef86952a00ed2cceab6e0c6c672dc956.jpg

Tak bisa menjawab, maybe you'll start to feel worthless ("ah, tidak ada gunanya hidup inih!" *ala2 FTV)
Losing hope and maybe considering to commit suicide, haha

But if you don't give up, you'll be sure that life is precious
dan hidup tak sekadar remeh temeh, tak hanya menghabiskan waktu sembari menunggu mati lalu syukur-syukur jadi orang sukses

"Lalu, apa tujuan hidupku?"
"Mengapa aku dilahirkan?"

Then, maybe you'll asked your parents :")
or ask the internet :v


atau mungkin kamu bertanya pada sesuatu yang metafisik
yang namanya tertulis pada kitab-kitab suci
the one who people said is The Creator
"Apa yang seharusnya aku lakukan.... Ya Tuhan?"

Maybe you'll feel stupid, asking something, pada sesuatu yang bahkan g bisa kamu lihat.
Namun, bahkan kalbumu pun g bisa kamu lihat, tapi kamu berbicara menggunakannya, kamu menerima keberadaannya, which means kamu mempercayainya, dan bahkan terkadang suara kalbumu lebih nyata dari suara di sekelilingmu. Lalu bagaimana dengan zat metafisik ini?

Ingin bersikap adil, finally you decide to give the same chance to this question,"Ya Tuhan...?"


Lalu ketika Ia menjawabmu, kamu tercekat,
ya, hidup tak sekadar remeh temeh, tak hanya menghabiskan waktu sembari menunggu mati lalu syukur-syukur jadi orang sukses

Lalu apakah tujuan hidup adalah hidup itu sendiri?

http://1.bp.blogspot.com/-0_gnA1H8E1M/UEfNIMlEaHI/AAAAAAAAA8o/uQt8ps6-ju8/s1600/268763_347000008715000_313311710_n.jpg
http://1.bp.blogspot.com/-0_gnA1H8E1M/UEfNIMlEaHI/
AAAAAAAAA8o/uQt8ps6-ju8/s1600/268763_347000008715000_313311710_n.jpg

Kamu tahu bukan itu, ada sesuatu setelah itu 
Yang lebih nyata, tetapi terlupakan,


olehmu, oleh semua orang

dan dunia telah berkembang biak dalam kefanaan, menjauhi kenyataan yang hakiki, muhehe
melebih yang bisa kamu atasi
karena terlalu banyak kesalahpahaman, terlalu banyak yang beralih makna

chaos

chaos

chaos

Kamu hanya berharap diampuni atas segala kesalahan dan kesalahpahaman yang kamu lakukan di dunia selama ini,
dan mulai mengorientasikan diri pada tujuan yang telah diberikanNya.
Kemudian, somehow kamu merasa takut untuk melangkah kembali di dunia ini, takut kembali terjebak dalam kesalahpahaman

Maka jangan heran ketika kamu mendapati dirimu akhirnya mempertanyakan lagi setiap hal di dunia ini.

The true meaning of every single thing,
The reason, why?

Lalu kamu akhirnya yakin sepenuhnya bahwa tak ada satu hal pun di dunia ini yang merupakan sebuah kebetulan. 
Semua punya maksud dan fungsinya masing-masing


kemudian segala hal menjadi terang, jelas, dan sangat mudah dipahami
Yang benar, yang salah
Yang di permukaan, yang di kedalaman

Kamu pun tidak pernah merasa lebih bersyukur dari saat itu,
dan kamu terus berdoa agar Ia terus menjagamu



https://2.bp.blogspot.com/-7ry-90omwjY/V14UB4IOdkI/AAAAAAAAGEU/uWmdTLLvzaoPc-Uq7AKCUjiyH3tx8HpTACLcB/s1600/Berdoalah%2BPada%2BWaktu%2BIni%252C%2BNiscaya%2BTerkabul.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-7ry-90omwjY/V14UB4IOdkI/
AAAAAAAAGEU/uWmdTLLvzaoPc-Uq7AKCUjiyH3tx8HpTACLcB/s1600/
Berdoalah%2BPada%2BWaktu%2BIni%252C%2BNiscaya%2BTerkabul.jpg


Al Fatihah




Have a nive day :)

*and pardon me, untuk kamu yang terPHP post di bawah ini :")

Rabu, 14 September 2016

Kamis, 24 September 2015

Dilema antara Passion dan Jaminan Masa Depan

Sebelum kamu membaca tulisan ini, ada baiknya kamu baca dulu tulisan yang ini.


Kali ini aku akan cerita pengalamanku pasca diterima di Arsitektur UGM dan lolos seleksi tahap pertama UM STAN. Yaah, pastinya saat-saat itu adalah masa paling gokil kalau boleh dibilang.

Untuk diriku saat itu, diterima di program studi arsitektur merupakan sebuah berkah yang amat besar. Kalau sampai g keterima di prodi arsitektur itu kayak udah abis aja hidupku. Udah seneng lah. Nah, di sisi lain, kerabat diluar keluarga intiku itu sangat mendukung aku untuk melanjutkan tes STAN.

Alasannya:
[SATU] karena kepastian kerja kelak usai lulus dari institusi tersebut, apalagi dibandingkan dengan prodi arsitektur yang kalo orang awam lihat ya prospeknya biasa2 aja.
[DUA] karena belum ada dari keluarga kami yang bisa lolos STAN, so pastinya ini cukup remarkable untuk mereka.
[TIGA] yang ini dari bapak: "kalau kamu bisa jaga diri, jaga prinsip, siapa tahu kamu bisa kerja di KPK dan bantu negeri ini melawan korupsi"

Heuuu. Yang terakhir so sweet. Sekarang baru sadar bapakku bijak abis. Wkwk. Ya itu yang akhirnya jadi alasan yang cukup kuat bagiku untuk melanjutkan UM STAN. Selain karena ada paman yang baik banget beliin sepatu olahraga baru untuk latihan tes fisik :v

Kalau boleh beranalogi, ini kaya kalau aku makan ayam geprek cabe 8 yang sekarang sering kusantap. Setelah makan aku sukanya minum teh panas, sensasinya luar biasa, nylekit-nylekit gimanaa gitu, tapi nikmat. Lalu aku ditawari es teh. Ya begitulah.

Seperti yang aku bilang di atas, aku udah g pengen lagi nyoba-nyoba STAN. Dah. Cukup. Arsi UGM. Dah sesuai banget kan dengan niatan sejak awal. Biar sulit, biar g ada jaminan, tapi aku suka.
Di sisi lain aku g ngerti gimana mau nolak dorongan dari keluarga. Yaudah deh, berniat nglegani, sembari menjalani proses registrasi dan segalanya, aku sambi latihan fisik (lari-lari buluk di lapangan militer dekat rumah).

Kan aku kebagian WAWANCARA dan TES KEBUGARAN FISIK tgl 23 dan 24 Agustus 2014 tuh, bertepatan sama SOFTSKILL PALAPA hari kedua sama PENUTUPAN PALAPA, Yaudah deh aku mantep aja bolos. Padahal ada konsekuensi bakal ngulang tahun depan kalau presensinya bolong-bolong, apalagi untuk tes STAN. Tapi yasudah, jalani aja. Yang penting semua tugas PALAPA hingga hari terakhir sudah beres dan sudah kukumpulkan tanggal 22nya.

Btw aku juga bikin surat izin juga untuk tgl 23 24. Nah, sebelum akhinya aku buat surat izin ini, KEJUJURANku diuji. Gak sedikit teman-teman UGM pejuang STAN yang menuliskan sakit sebagai alasan keabsenannya. Duh, sedih, dulu aku mikirnya cuma itu g bener aja. Kalau dipikir sekarang ya, mereka ngebet mau masuk STAN, doanya g pernah absen setiap habis salat, tapi metodenya g berkah :"(

Ya intinya aku g mau ikut-ikutan. Aku tulis saja aku mau tes STAN. Serba salah juga sih karena sesungguhnya aku g terlalu menginginkannya, tapi polpolan gitu. Namun, sekarang setelah dipikir lagi ya dulu aku cuma pengen istiqomah aja. Aku ingin semuanya berkah, semua diridahi Allah, agar nanti lolos tidaknya itu sungguh semua karena Allah. Bismillah.

Ketika tiba tanggal 23, aku berangkat dari kosan diantar bapak ibu ke tempat tesnya di Kalasan. Cukup surprise aku ketemu banyak temen lama zaman smp. Wgwgwg. Ya, tentu mereka terlihat sangat niat, beda denganku yang merasa useless berada di situ. Wgwgwg. Ya begitulah. Tapi ya ku jalani saja. (Kalau dipikir simpel tu aku g paham kenapa aku mau menjalani semua itu -..-)

Pas mulai diminta ngisi kuesioner mengenai kepribadian ya aku isi aja apa adanya. Alhamdulillah saat itu aku sedang optimis2nya, sedang berani2nya, sedang nekad2nya, ya aku isi sewoles mungkin, semau hatiku, seluas pikiranku bisa meraih jawaban untuk setiap persoalan.

Ketika akhirnya aku masuk ke sesi wawancara yang sesungguhnya, sifat wolesku g lepas. Memang kuniatkan untuk tidak kulepas. Ibu-ibu berjilbab di hadapanku, yg g kukenal sama sekali itu, malah jadi pelampiasanku. Recorder dinyalakan, dan tatkala peserta lain bilang mereka pengen banget masuk STAN sampai ada yang nangis, aku bilang aku mau di Arsi UGM, aku di sini karena keluarga meminta, kalau aku masuk kualifikasi untuk diterima, berikan ke orang lain aja yang lebih ingin. Ya kurang lebih itu intinya (dari seluruh obrolan yang cukup panjang dan cukup bervariatif topiknya). Hmm, sumpah sombong banget aku sama STAN -..- Tapi ya mau gimana lagi. Aku g dapet feelnyaaaa. Kalau aku faking malah berabe nanti :"

Kesombonganku ditantang sama ibu-ibu yang mewawancaraiku itu. Ketika recorder dimatikan, after all the things i've said to her, ibu itu berkata, "Saya sekarang dosen STAN, saya lulusan STAN, dan sebelumnya saya juga diterima di Arsitektur UGM,"

...

Oukaaaaay O.O
What a coincident?
Yaudah sih, aku sendiri bingung harus menyikapi bagaimana. Oke bu, saya undur diri,"Terima kasih,"

HMM, dan begitulah tgl 23 Agustus 2014 ku berlalu. Wgwg

Tanggal 24, meski sudah bilang kaya gitu sehari sebelumnya, aku tetap menjalani tes kebugaran dengan sepenuh hati. Mulai dari tes berat badan, tinggi badan, tensi, mata, lalala, seluruh tetek bengeknya, aku jalani semua semaksimal mungkin (bahkan aku lari dapat 6 putaran) meski merasa agak useless juga.

ya..
yaaa...
begitulah

dan kamu tidak akan menemukanku di sini:


:v

Aneh ya? Agak absurd2 gimanaa gitu ya?
Hahaha, ya gitu :p

Dan g perlu ngecek lagi, sudah jelas namaku g ada di daftar peserta UM STAN yang lolos seleksi :p

Sekarang sudah setahun terlewat. Aku dinyatakan lolos PALAPA. Agak heran sebenarnya. Dengar-dengar ada problem di input data absensi :p Wallahualam

Apakah aku menyesali keputusanku untuk menolak STAN? Alhamdulillah belum pernah. Paling kadang cuma berandai-andai kalau aku jadi masuk STAN, sekarang aku lagi ngapain..
Well, kehidupan di Arsi g selamanya bahagia, tetapi di sini aku banyak belajar.
Jika kelak suatu hari aku menyesal, aku cukup perlu ingat lagi, aku sudah mempercayakan semuanya pada Allah, dan Allah tidak mungkin menghianati hambaNya.

Lagi-lagi manusia perlu komitmen. Setiap hal yang kita kerjakan punya konsekuensinya sendiri-diri. Ambil resiko, atau kamu cuma akan jadi seonggok makhluk yang kehilangan hakikatnya untuk berkarya.

Semoga Allah senantiasa menuntun kita di jalanNya yang lurus. Aamiin.



Magelang, 24 September 2015
Di suatu malam, sebelum deadline tugas Struktur dan Konstruksi 3

Minggu, 08 Maret 2015

Susahnya Daftar Kuliah

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

http://hercampus.com/

Ditolak SNMPTN itu sakitnya di mana-mana. Sedihnya baru habis setelah tiga hari nangis.
Ironis sekali pengumuman yang aku dapat waktu itu, H-1 wisuda, tepat saat kami sedang gladi resik. Besoknya aku resmi dilepas oleh sekolah dan resmi pula statusku sebagai pengangguran.

Panik. Panik. Panik.

Meski bahagia saat wisuda, hatiku tetap g tenang melihat aku belum diterima di perguruan tinggi mana pun. Belum lagi aku g pernah belajar secara khusus untuk tes masuk PTN.

Namun, bagaimanapun juga aku harus tetap berpikir logis. Kalau mau keterima ya aku harus berusaha.
Bermodal buku latihan SBMPTN pinjaman Yessika Agasa (yang sekarang di KU UGM), kupaksa-paksa diriku belajar. Panik tetap datang tapi selalu kuusahakan untuk kutolak, kudorong jauh-jauh. Jangan sampai ia menggerogiti hati dan pikiranku.

Terima kasih, berkat situasi ini aku menemukan kembali Tuhanku, Allah SWT. Hanya Ia yang mampu menyelamatkanku dari keterpurukan, hanya Ia yang mampu memberikan kekuatan dan ketabahan untuk menjalani masa-masa menegangkan itu.

Masa tegang juga jadi sedikit kendor berkat teman-teman seperjuangan yang sangat kucintai dan kubanggakan. Lots of love untuk Amy and Atika. Kalian warbiassaaa :*

Amy dan Atika

Nah, sekarang masalah orang tua...
Awalnya aku malu sekali pada mereka. Aku merasa seperti anak tak berguna, gak bisa dibanggakan. Aku bahkan sempat takut untuk mendaftar Arsitektur lagi. Alhamdulillah mereka gak gimana-gimana soal pilihanku.

Namun, imbasnya di banyaknya PT yang harus aku coba masuki.

[ORIGINAL PLAN]
- SBMPTN:
  1. SAPPK ITB
  2. ARSITEKTUR UGM
  3. TEKNIK ARSITEKTUR UNDIP
[IMPROVISASI]
- UM UGM
- UM STAN

Yang paling mlencong itu ya STAN. Notabene, keluarga kami bukan keluarga STANSENTRIS. Namun, mungkin karena sedang panik akhirnya aku daftar STAN, DIII Akuntansi...

Jangan ditanya, sebenarnya aku malas setengah mati. Ngurus pendaftarannya saja sudah sangat merepotkan. Namun, bagaimana lagi, aku sendiri g tahu bagaimana nasibku selanjutnya. Bermodal niatan bapak agar aku jadi pegawai yang baik setelah lulus dari sekolah tersebut, akhirnya kujalani juga prosesnya.

Secara berurutan, aku mengikuti SBMPTN, UM UGM, lalu UM STAN. Semuanya kujalani di Yogyakarta. Kota yang incredibly super hot, sampai aku kepanggang berkali-kali di mobil. Padahal jaraknya cuma 1 jam dari Magelang.

"Kayaknya aku gak kuat deh buk kalau suruh kuliah di Jogja," kataku selepas SBMPTN, ketika pikiran melayang pada Bandung, sarang Ganesha-ganesha muda. Tanpa kusadari kalimat itu nanti harus kutelan sendiri. Wkaks :v

Di samping sulitnya soal-soal yang harus kuhadapi dan repotnya bolak-balik Magelang-Jogja, aku menemukan banyak teman seperjuangan. Masih aku ingat wajah dan beberapa nama mereka. Waktu itu pun sempat kami bertukar nomor HP, tapi HPku rusak dan kontak mereka pun hilang. Aku berdoa semoga mereka mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari yang dahulu mereka harapkan.

Hari berganti hari dan tiba saat pengumuman tes tahap awal STAN. Ternyata aku lulus. Alhamdulillah, meski bukan tujuan utama, aku tetap bahagia. Apalagi kalau melihat Bapak dan Ibu jadi lebih tenang.
Beberapa hari kemudian, tibalah waktunya untuk pengumuman SBMPTN. Banyak temanku yang takut membuka laman pengumuman, katanya trauma dengan warna merah yang muncul saat mereka ditolak SNMPTN, tapi entah kenapa aku biasa saja (meski gugup). Mungkin karena aku terlalu pasrah.

Kubuka laman pengumuman. Kemudian aku tertawa.

"Pak, Buk, aku keterima di UGM,"

"ALHAMDULILLAAAAAAAH" begitulah koor seisi rumah. Semua memberi selamat. Lega kurasa, meski sedih masih bergelayut, mengikis angan tentang Bandung dan ITB. LOL

Aku lebih bersyukur lagi karena aku akhirnya kuliah ARSITEKTUR. Benar kata Mas Doni, "Pilih 1 prodi, atau kamu bakal menyesal". Thank u so much :"))

Setelah itu, dimulailah perjalananku mendaftar ulang diriku sendiri di Kampus Biru yang terkenal itu. Wkaks :v

http://hoteldekatkampus.com

Lalu bagaimana dengan STAN?
Well, itu chapter lain. Akan kuceritakan lain kali. Untuk sekarang, segini dulu.
Mungkin rasanya gak penting, Namun, cermati dan resapi, karena kita tak harus selalu mengalami suatu ujian untuk memetik sebuah pelajaran.

Salam hangat dari Jogja :*

Minggu, 31 Agustus 2014

Orang Tua Kepada Anaknya


Dulu, waktu aku masih kecil, waktu aku belum sadar besar cinta kedua orang tuaku, aku sering sedih bila berkunjung ke kerabat di desa yang sudah sepuh dan tinggal sendirian di rumah yang tua. "Mbah", begitulah aku menyapa mereka. Jalannya grumah grumuh, sudah sering lupa juga. Menurut Bapak, anak-anak mereka ada jauh di luar kota.

"Waw.. anaknya pasti kaya-kaya", pikirku. Kemudian, aku mengedarkan pendanganku ke sekeliling rumah Mbah dan yang kurasakan hanya miris. "Irikah Mbah pada anak-anaknya yang sudah kaya? Apakah ia marah pada mereka karena jarang berkunjung? Geramkah ia bila tak disantuni setiap bulan?"

Ya, itu pikiranku dulu. Bila kulihat lagi, diriku ini miskin pencerahan.

Kini, saat aku sudah agak besar, sudah mengicipi asam manis kehidupan, sudah mulai menyadari betapa besarnya cinta orang tuaku, aku kembali mengunjungi Mbah. Diriku tersentak dalam diam ketika obrolan-obrolan ringan mengudara. Mbah bercerita macam-macam, terutama tentang anak-anaknya di kota, yang sudah makmur, sudah punya cucu yang lucu, yang sayang pula pada Mbah, yang sering membawakannya beras, daging, dan sembako lainnya.

Orang tua, tak pernah iri pada anaknya, tak akan pernah. Orang tua akan lebih bahagia bila anaknya hidup lebih makmur walau hanya sedikit. Orang tua...

Kupandangi kedua orang tuaku. Kembali aku tertohok. Bagaimana aku, seorang anak kepada orang tua(ku)?


Tohokan di awal Syawal

Rabu, 20 Agustus 2014

Mahasiswa

oleh: Hanifah Sausan N

kungkungan tembok
energen dan air yang seharusnya panas
buku-buku yang berserak di segala penjuru

hambar
ngambang
sang pelahir tak lagi mengkoordinir
lalu sedikit sesal

tak apa!
tersenyum!

lalu berangkat ke peraduan
bertemu kawan
dan terinspirasi

hati berkobar
dan otak serta raga tak henti-hentinya bekerja
menjadi penjahat dari para penjahat


istilah penjahat dari para penjahat diambil dari blog "Gendon Racun"