BOOK

[Book Review] Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 (2014) - Bukan Cuma Soal Baper

Januari 22, 2018

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu.
Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja"

(Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu,
nanti, besoknya, orang itu akan hilang."
(Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan.
Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli."
(Milea 1990)


JUDUL: "Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990"
PENULIS: Pidi Baiq
ILUSTRATOR: Pidi Baiq
GENRE: Novel Remaja
PENERBIT: Pastel Books (Mizan Group)
TANGGAL TERBIT: Jumada Al-Tsaniyah 1436 H/April 2014
Jumlah Halaman: 332 halaman

PROLOG

Saya mengenal Pidi Baiq sebelum "Dilan" terbit. Dibanding pembawaan cerita yang romantis, saya lebih familiar dengan beliau lewat serial Drunkennya yang ditulis dengan tata bahasa super tidak baku dan cerita kesehariannya yang absurd lucu lucu receh gimanaa gitu, tapi sarat makna.

Kesukaan saya pada sosok Surayah mengantarkan saya pada media beliau yang lain; twitter, blog, dan The Panas Dalam, band besutan beliau yang beliau imami sendiri. Ketiga media tersebut (plus IG sekarang) dibawakan dengan kesan yang sama dengan serial Drunken; lucu, nyleneh, plintar plintir kata dan makna. Ini menandakan orisinatilas karakter Pidi Baiq.

Dilan, sebelum dicetak menjadi buku pernah dipublish di blog pribadi Suraya beberupa beberapa potong bab awal. Saya sempat baca dan lumayan kage karena gaya penulisan yang jauh dari biasanya, kali ini "cenderung normal". Kaget lagi dengan bau-bau romance di dalamnya lantaran unsur tersebut jarang dimasukkan dalam tulisan-tulisan Pidi Baiq sebelumnya.

Kekagetan saya adalah hal positif tentunya, mengingat saya ikuta nyamber novel ini dari toko buku beberapa bulan sejak pertam terbit. Namun, di luar dugaan, setelah beberapa bab, saya berhenti baca dan tidak lanjut sampai lama sekali. 

Sepertinya saat itu saya kesal karena seakan Suraya mulai bergerak mengikuti minat pasar yang lebih demen sama novel romantis. Semua yang saya baca di "Dilan 1990" waktu itu terasa sangat cheesy dan meaningless. Mungkin salah saya juga waktu itu berharap mendapat hal yang sama seperti di Serial Drunken. Apalah daya, membaca "Dilan" tidak mampun memenuhi hasrat kerecehan saya.

Ditambah setelah itu novel "Dilan" sukses besar, popularitas Pidi Baiq melejit, dan banyak fans baru yang tergila-gila pada Dilan tapi tidak mengenal Pidi Baiq sebelum Dilan, saya jadi sentimen, mutung, dan tidak melanjutkan buku tersebut. Haha. Tidak juga bergeming bahkan setelah novel kedua dan ketiganya keluar di pasaran.

Baru tiga tahun kemudian, di tengah bulan September 2017, ketika novel "Dilan" akan diangkat ke layar lebar, saya pun tergugah untuk membacanya lagi.

Usai membaca ulang Drunken Monster dan tersentak karena bisa menggali makna yang lebih dalam dibanding saat pertama kali membacanya, membaca lagi "Dilan" memberikan efek yang sama. Ternyata, ada hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh saya yang tiga tahun lalu, yang masih fresh dari SMA dan sedang menyelesaikan semester pertamanya sebagai mahasiswa.


REVIEW "DILAN"

SETTING DAN KARAKTER UTAMA

Novel ini menceritakan kisah Milea, siswa pindahaan dari Jakarta yang bertemu Dilan di SMA barunya di Bandung. Dengan latar waktu tahun 1990, cerita ini punya modal positif untuk menonjol di tengah generasi remaja masa kini (meski bukan itu yang jadi poin utama Pidi Baiq menulis cerita ini). Alur diawali dengan perkenalan dari Milea masa kini yang telah menikah dan tinggal di Jakarta. Di suatu malam, ia bernostalgia dan mulai menuturkan kisah berkesannya bersama Dilan.

Sampai titik ini, Pidi Baiq sudah membuat kita penasaran dan bertanya-tanya:
"Apakah Dilan dan suami Milea adalah orang yang sama?"

Bab kedua hingga bab ke-24 adalah kisah Milea tahun 1990. Bab ke-25 yang sangat singkat adalah sebuah penutupan dari Milea masa kini. Ia berkata bahwa ia sedang sangat rindu, entah pada siapa. Mungkin pada Dilan yang baru saja ia kisahkan sebuku banyaknya, atau pada suaminya yang misterius.


Karakter Milea sendiri, mengamati dari reaksinya terhadap karakter Dilan, awalnya merupakan gadis yang super normal. Bisa dibilang ia tipe yang mengikuti arus, mengikuti arahan lingkungannya. Milea sebelum pindha ke Bandung mampu mempertahankan pacar dengan temperamen superburuk, mungkin karena sudah terlanjur sayang. Setidaknya begitu, sebelum Dilan mulai memasuki kehidupan Milea.


Karakter Dilan digambarkan sebagai pemuda SMA yang nyeleneh dan jahil, ketua geng motor, sering melanggar aturan sekolah, semaunya sendiri, tapi diam-diam cerdas, humble, dan sangat loyal. Seberapa nyeleneh dan jahilnya Dilan? Well, dari dua baris quote Dilan di atas, pasti sudah kebayang kan? Sebagai tambahan, Dilan dikisahkan pernah memberikan hadiah pada Milea berupa TTS disertai pesan:
"SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA.
INI HADIAH UNTUKMU, CUMA TTS.
TAPI SUDAH KUISI SEMUA.
AKU SAYANG KAMU
AKU TIDAK MAU KAMU PUSING
KARENA HARUS MENGISINYA.
DILAN!"

Keunikan karakter Dilan ini yang nantinya memberi warna pada novel ini. Seperti biasa, Pidi Baiq membuai kita dengan diksi percakapannya yang nyeleneh, muter-muter, dan membuat terkejut. Namun, kali ini dalam konteks romansa. Alih-alih ifil atau kesel (seperti kalau baca Serial Drunken, wkwk), paduan karakter nyleneh dan romansa ternyata berhasil membuat baper sebagian besar dari kita. Sebagian bahkan menjadikan karakter Dilan sebagai role model baru dalam upaya menggaet pasangan. 

Surayah, lihat apa yang telah kau perbuat! Wgkwk.


KONFLIK DAN PERKEMBANGAN KARAKTER

Kisah Dilan Milea sangat manis. Namun, jelas bukan tanpa halang rintangan. Seperti fitrahnya, konflik-konflik dalam cerita ini punya peran signifikan dalam perkembangan karakter utamanya.

Dari sisi Milea, ia punya masalah dengan beberapa pria yang tertarik padanya. Pertama, ada Beni, pacar Milea di Jakarta yang cemburuan dan berakhlah superburuk kalau sedang dipenuhi emosi. Ada juga Nandan, kawan sekelas Milea di Bandung yang mencoba memenangkan hati Milea dengan kepintaran dan hadiah-hadiahnya yang w.o.w. Ada lagi Kang Adi, mahasiswa senior ITB yang merasa bisa mendapatkan hati Milea setelah memamerkan "kedewasaanya".

Masalah-masalah Dilan, di lain sisi, sedikit berbeda. Dilan lebih fokus pada kawan-kawannya dan prinsip-prinsip yang dia yakini; ada Anhar, sobat segeng motornya yang sedikit lebih nakal dan sedikit sentimen pada Milea, dan ada Pak Suripto, salah seorang guru di SMA tersebut yang hobi menarget Dilan dkk untuk disalah-salahkan, dan yang gak kalah bombastis adalah geng motor yang dipimpin oleh Dilan. Meski begitu, Dilan juga tidak bebas dari incaran lawan jenis: ada Susi, salah satu siswi populer di SMA yang dikabarkan pernah ngaku-ngaku pacarnya Dilan dan jadi sangat sentimen pada Milea sejak terdengar kabar bahwa Dilan mendekati Milea.

 

Dari respon-respon karakter utama terhadap masalah-masalah tersebut, saya menangkap beberapa hal:

- Milea belajar mengenai ketulusan, kesetiaan, dan kesederhanaan
Di hari ulang tahunnya, ketika pria-pria pengincar Milea memberinya hadih-hadiah besar dan surprise party, Dilan datang memberinya TTS. Iya TTS yang sudah diisi semua itu. Tentu Dilan menjadi menarik bagi Milea. Pada peristiwa-peristiwa setelahnya, tak lagi sekadar persoalan unik, bagi Milea Dilan adalah yang terbaik dalam memahaminya, yang mampu memberi apa yang dibutuhkan Milea dengan sederhana tanpa keinginan untuk dipuji atau apa pun. Dari sini, Milea mulai mencari ketulusan yang ia temukan dalam Dilan dalam diri teman-teman dan orang-orang di sekitarnya, sehingga ia juga mulai selektif terhadap lingkaran pertemenan dan interaksinya dengan orang lain. Milea mulai memahami hal-hal apa saja yang berharga baginya.

- "Don't judge a book by its cover."
Cukup mudah untuk tidak menyukai sosok seperti Dilan di kehidupan nyata: usil, ketua geng motor, suka berulah, dan super random. Milea sendiri sempat menolak kehadiran Dilan di awal-awal pertemuan mereka. Namun, Milea juga tergerak untuk menggali lebih dalam lagi soal Dilan dan menemukan hal-hal yang akhirnya membuat kita juga menyayangi karakter Dilan.

- Integritas
Masuk ke bab-bab klimaks, kita makin tersadar bahwa Dilan adalah anak yang cerdas dan berprinsip. Kecerdasannya memeras prinsip menjadi asas terdasar mungkin menyulitkan orang lain di sekitarnya karena Dilan jadi punya gaya bertindak yang berbeda, ekstrimnya dianggap menyimpang. Namun, sebenarnya itu upaya Dilan menyelematkan dirinya dan prinsipnya dari aturan yang terkadang justru membatasi prinsip-prinsip itu sendiri. Terlepas dari emosinya yang meluap-luap, tokoh Dilan menunjukkan integritas tinggi dalam menjaga hal-hal yang berharga baginya. Ia juga memiliki keberanian untuk bertindak kala melihat kebatilan, bahkan ketika si pelaku kebatilan adalah sahabatnya sendiri, atau orang yang posisinya lebih tinggi darinya.
Keberanian ini pada akhirnya menular pada Milea di mana makin ke belakang, Milea mulai melakukan tindakan-tindakan untuk menjaga hal-hal yang berharga baginya. Hal ini berkebalikan dengan karakter Milea sebelumnya yang cenderung pasrah dan ngikut aja.

Sampai poin ini, saya jadi teringat karakter story-telling Hayao mazaki yang selalu membuat karakternya berkembang seiring jalannya cerita. However, setelah mengamati kembali, di antara Dilan dan Milea, hanya Milea yang benar-benar mengalami perkembangan. Milealah yang mengalami proses pembelajaran. Mungkin karena POV juga dari Milea, argumen ini menjadi semakin kuat. Sedangkan karakter Dilan tetap dari awal hingga akhir, yang terlihat seperti perubahan sikap sesungguhnya adalah bentuk respon yang meningkat intensitasnya, tetapi masih dari sifat karakter yang sama.


KECERDASAN STORY-TELLING PIDI BAIQ

Milea terasa sangat nyata, nyewek sekali. Detil-detil kecewekannya yang memukau membuatku seolah lupa kalau yang menulis ini adalah Pidi Baiq, ia yang gaya tulisan sebelumnya terkesan serampangan dan "laki banget lah".

Well, memang benar dan telah diimani oleh ummat The Pandal  kalau Milea merupakan karakter nyata. Maka sebenarnya cenderung lebih mudah untuk memberikan detil ketika ada presedennya (contoh). Namun, kemampuan Surayah untuk meresapi karakter dan membuat penuturannya terasa sangat sempurnalah yang jadi kesuksesan karakter Milea. 

Ada poin-poin di mana aku merasa Pidi Baiq pindah kelamin sebentar saat ia menulisnya:
- ketika Milea fangirling Dilan di babak penyisihan cerdas cermat
- ketika Milea mati-matian jaga gengsi dalam mengorek informasi soal Dilan dari Wati, sepupu Dilan
- ketika Milea malu-malu curhat pada Piyan, sahabat Dilan
- setiap saat Milea kesengsem dengan perhatian yang diberikan Dilan
- dll
Aigoo, harusnya saya gak kaget karena Pidi Baiq sesungguhnya telah menunjukkan kemampuan ini sebelumnya dalam lagu "Rintihan Kuntilanak", wkwk.



SOAL SIAPA SOSOK DILAN SESUNGGUHNYA

Sosok Milea sudah terkuak. Dilan masih menjadi misteri.

However, banyak ummat The Pandal mengimani bahwa Dilan adalah Surayah sendiri. Dari segi karakter saja, sangat sulit untuk mengatakan bahwa Dilan tidak mengingatkan kita pada Surayah. Beberapa klue kuat yang mendukung asumsi ini adalah bahwa tokoh asli Dilan sekarang tinggal di Bandung dan surat Pidi Baiq pada Piyan yang ditulis layaknya menulis pada sahabat dekat, dan di surat itu Surayah meminta izin untuk menyantumkan kisah masa cilik mereka di buku Drunken Marmut (2009).

Namun, di salah satu tulisan Suraya di blog pribadinya, Surayah menceritakan momen ketika ia bertemu dengan Milea masa kini dan membicarakan soal buku, royalti, setor data, dan lain-lain. Di situ tersirat bahwa Dilan bukanlah Pidi Baiq. 

Aigoo, membingungkan. Cara terbaik adalah untuk menunggu dan membaca kisah mereka hingga habis. Jangan nggantung ya, Surayah :)




EPILOG: "DILAN" ADALAH SEBUAH KEJUTAN
Ada yang bilang Milea alay, ada yang bilang tata bahasa buku "Dilan" kacau, garing, dan lain-lain. Namun, seperti ketika akhirnya saya ikhlas dengan keabsurdan Serial Drunken dan malah jadi sangat suka dengannya, akhirnya saya juga ikhlas dengan "Dilan" dan segala yang di dalamnya. Segala celah dan kekurangan dianggap sebagai sebuah kesatuan yang membentuk karakter buku "Dilan". Ia adalah kejutan bagi siapa saja yang mengagumi sosok Surayah.

Saya pun berharap bisa mendapat efek yang sama ketika filmnya keluar tanggal 25 bulan ini. Meskipun sebenarnya saya agak kecewa waktu nonton trailernya karena rayuan Dilan terdengar kaku dan hilang aura kejahilannya. Hehe. Semoga seperti yang dibilang Surayah, kekecewaan kita dapat terobati setelah menonton filmnya. Aamiin.

Pokoknya good job lah Surayah. Gambar Surayah juga sangat bagus :"))
Coba kalau saya jadi kuliah di Bandung, pasti sudah saya bawakan kue ke rumah ayah!


Yogyakarta, 21-22 Januari 2018
Ditulis untuk Challange Liburan "Catatan Kaki"

MOVIE

[Movie Review] The Greatest Showman (2017)

Januari 13, 2018


[Warning]
It will be a huge spoiler to read this review if you haven't got the chance to watch the movie.


Taken from IMDb:

Orphaned, penniless but ambitious and with a mind crammed with imagination and fresh ideas, the American Phineas Taylor Barnum will always be remembered as the man with the gift to effortlessly blur the line between reality and fiction. Thirsty for innovation and hungry for success, the son of a tailor will manage to open a wax museum but will soon shift focus to the unique and peculiar, introducing extraordinary, never-seen-before live acts on the circus stage. Some will call Barnum's wide collection of oddities, a freak show; however, when the obsessed for cheers and respectability showman gambles everything on the opera singer Jenny Lind to appeal to a high-brow audience, he will somehow lose sight of the most important aspect of his life: his family. Will Barnum risk it all to be accepted? - Written by Nick Riganas

GENRE : Drama, Musical & Performing Arts 
DIRECTOR : Michael Gracey 
RELEASE DATE :  wide 
 RUNTIME : 
MAIN CAST : Hugh Jackman, Michelle Williams, 
Zac Efron, Zendaya, Rebecca Ferguson.

.,.

I managed to watch the movie last Tuesday, bersama adikku (IG: @razizah) dan teman KKNku, Dida (IG: @dida.khalida). I definitely rushed to the cinema after having my Maghrib prayer. (Damn, I really don't like how they set movie schedule close to Maghrib praying time). Alhamdulillah, sampai di bioskop sebelum filmnya dimulai.

Saya sebenarnya sangat mengantisipasi film ini setelah melihat trailernya diputar di bioskop (sembari menunggu film "Wonders" dimulai). Dengan audio yang mantap, trailer ini berhasil membuat saya berpikir, "Oke, fixed nonton."



BEAUTIFUL OPENING

I'm not kidding. Film dibuka dengan lagu "The Greatest Show" di mana Hugh Jackman sebagai P.T. Barnum menyanyi dan menari diiringi hentakan kaki-kaki penonton yang duduk di tribun sirkus. Dengan permainan lighting, dipadukan dengan beat lagu dan koreografi, pembuka ini berhasil mencuri perhatian penonton. Lebih-lebih ketika pemain sirkus bermunculan, turut menari, and then, a twist, turned out semua itu hanya mimpi si Barnum muda.

Scene-scene selanjutnya yang menceritakan perjuangan hidup dan cinta si Barnum muda hingga dewasa disajikan super duper musikal, which was kind a surprise to see it that early. Yet, it was very beautiful, permainan transisi shot, scene, dan gestur tokoh harmonis dengan musik yang melatar belakanginya. Bagaimana batas antara "regular scene" dan "musical scene" melebur dan keduanya menjadi sebuah kesatuan menghasilkan flow cerita yang smooth dan menarik.

Scene-scene musikal pada bagian pembukaan juga punya simbolisasi bagus, misal saat Barnum dan Charity dewasa menari di atas rooftop. Charity yang meloncat ke sana ke mari di tepi rooftop tanpa rasa takut terjatuh menunjukkan rasa cinta dan kepercayaan Charity pada Barnum yang begitu besar. How they managed dance dangerously till the end, showed just how strong their love to each other that they're not affraid to take risk as long as they are together.

Pada poin ini, saya beneran pengen ngeploki art director, production design, screenplay writer, atau siapa pun mereka yang membuat gulungan kain yang dibawa Barnum muda jatuh dan menggulung terbuka di depan teras rumah ketika ia melihat Charity pergi untuk sekolah di asrama, dan siapa pun yang membuat jemuran di rooftop tertiup angin searah dengan gerak tari Barnum dan Charity.

Banyak sekali detail-detail yang terjadi, dan itu semua campur aduk dengan musik yang ciamik dan scene yang bikin mewek-mewek. Saking terpukaunya, di kepala saya sudah muncul pikiran, "Fixed, aku mau nonton lagi," hal yang sebenarnya sudah jarang saya rasakan ketika nonton film zaman now.

Unfortunately, it was only at the begining.


LACK OF PROCESSES

Tadinya, saya kira transisi sequence yang cepat cuma berlaku di opening saja, notabene dia meringkas kisah pendewasaan karakter Barnum. Ternyata, sequence-sequence selanjutnya tak kalah singkat dan ringkas, unless this time it left us with a lot of questions upon sudden acts of the characters, caused by lack of their motive.

Kita bisa melihat Phillip Carlyle (Zac Efron) (partner kerja Barnum) fell for Anne Wheeler (Zendaya) (pemain palang gantung di sirkus Barnum) at first sight, for sure, tapi tak banyak hal signifikan yang terjadi antara mereka. Lalu tahu-tahu kita melihat mereka berdua diam-diam bergandengan tangan sembari menonton pertunjukan. W-what?? We need more affection ahead of time! Scene-scene mereka selanjutnya jadi terasa sedikit hambar karenanya.


Kasus serupa juga terjadi pada hubungan antara anggota sirkus dengan Barnum. Tak pernah terlihat mereka berlatih bersama sebelum mereka tampil pertama kali maupun setelahnya. We could only see them performing, which is when they were working. Kita tidak diberi lihat bagaimana mereka membangun kerja sama, membangun hubungan yang erat yang lebih dari sekedar partner kerja.

Later in time, saya jadi kurang bisa meresapi semangat para anggota sirkus ketika mereka harus berjuang sendiri setelah "ditelantarkan" oleh Barnum. Saya pun terbengong-bengong ketika mereka menghibur Barnum yang bangkrut dengan mengatakan bahwa Barnum adalah orang yang telah menjadikan mereka keluarga.

And sorry to say, itu bukan puncaknya. Saya lebih bengong lagi ketika di tengah pertunjukan final, Barnum dengan dramatis menyerahkan topi ikoniknya pada Philip sebagai simbol penyerahan posisinya sebagai pimpinan sirkus pada Phillip. And Phillip was shown very grateful as he felt very happy during his time managing the circus. For God's sake, we didn't see enough of him handling the circus behind the stage :0

Saya rasa, satu-satunya karakter dengan progress cerita yang cenderung baik dan proposional adalah Charity dan kedua anak Barnum. Not to mention that later Barnum and Charity had the quickest and easiest make up I've ever seen.


JURANG YANG TAK TERJEMBATANI

Dengan latar utama New York tahun 1850an, isu mengenai kesenjangan sosial keras didengungkan dalam film ini: antara kaum menengah ke bawah, kulit hitam, orang-orang dengan kelainan fisik, dan kaum elit. Sirkus Barnum mendapat penolakan yang cukup besar dari kaum elit, digambarkan lewat bullying terhadap putri Barnum yang dibilang bau kacang (nonton sirkus sambil makan kacang), lewat demo haters, dan lewat sosok kritikus New York Times yang terus-terusan meluncurkan komentar negatif terhadap sirkus Barnum dalam tulisannya: palsu dan tak tidak berkelas.

Barnum berusaha sangat keras membawa dirinya dan pertunjukkannya ke level sosial yang lebih tinggi. He ended up chose Jenny Lind (played by Rebecca Ferguson), a famous swedish singer, to be his next performer. We all could expect that later he will abandon his sircus. A good thing actually, as we also expect some genius problem solving in the next coming critical situation. (Well, I guess we all hope to see the circus member finally succeed to attract the elite)

Namun, ketika tim sirkus tak menunjukkan progress yang signifikan dalam penampilan mereka setelah ditelantarkan oleh Barnum, ekspektasi itu perlahan surut. Di akhir cerita, ketika Barnum membuka lagi sirkusnya, tak terlihat kaum elit hadir dalam kerumunan penonton. Phillip who came from a white noble family and Anne who was a black woman indeed ended up together, but that's not really Barnum's bussiness. Saya berani menyatakan bahwa pada akhirnya tokoh Barnum gagal membangun jembatani antara dua kaum ini.

Saya tahu film ini berdasarkan cerita nyata. Mungkin saat itu mereka memang tidak berhasil menggaet kaum elit. Namun, ketika mereka terang-terangan mengambil isu tersebut (bahkan menjualnya dalam trailer), setidaknya mereka bisa menghadirkan hikmah dari kegagalan tersebut di film ini.

dan quote P. T. Barnum, "The noblest art is that of making others happy." yang ditampilkan untuk menutup film tersebut, definitetly was not enough, at least for me. 


ANALOGI SENSASI GEPREK CABE 15 DAN TEH MANIS PANAS

A few friend of mine also commented about how rough the CGI was. As we are architecture students, we are a bit more familiar with image/animation rendering, and can easily point out a bad one. Dengan canggihnya teknologi perfilman masa kini, khususnya di Hollywood sendiri, The Greatest Showman's was cleary a poor example.

Fi, sentimen banget sih sama filmnya? Seburuh itukah?

Yes and No.

The Greatest Showman jelas punya potensi besar. Latar cerita, karakter, dan permasalahan yang muncul semuanya menarik dan menantang untuk digarap. Line up castnya pun menurutku lebih dari layak untuk memerankan karakter-karakter yang ada dan menjawab tantangan dari konflik cerita yang telah ditetapkan. Sayangnya (sayang bangeeeet) tim produksi kurang cermat dalam mengembangkan cerita dan mengeksekusinya. Awalan yang epik tidak diiringi dengan progress cerita dan detail artistik yang idealnya terus meningkat. Excitement yang dirasakan penonton justru tambah turun sejalan dengan rampungnya film.

Ibarat makan geprek cabe 15 dan berharap merasakan sensasi pedas bertemu dengan panasnya teh manis di dalam mulutmu setelahnya, eh si mas-mas geprek malah ngasih teh anget... 

Kalau Pakde Hugh Jackman bilang mereka butuh 7,5 tahun untuk memproduksi film ini, well mungkin mereka butuh waktu lebih lama lagi. Saya pun gak keberatan kalau durasi filmnya jadi lebih panjang, selama saya gak plonga-plongo lihat Zac Efron dan Zendaya tiba-tiba gandengan tangan. 


EVERLASTING MUSICAL PERFORMANCES

If there are goods remained in the movie, one of it must be its musical elements. It was exciting to watch Hugh Jackman singing and dancing as I am more familiar with him acted as Logan. It was also very nostalgic to watch Zac Efron doing musical again after High School Musical trilogy ended years ago. It's funny how his singing voice has changed, become more mature, haha. The choreographies are also beautiful (despite its poor progression throughout the movie). It must have taken a lot of practice to get in sync. Terrific!



The music, no exception, is another masterpiece. I've downloaded the original soundtrack album and have been listening to it for the whole weekend. My favorites are "Never Enough" by Loren Allred (I wanna give a big appreciation to Rebecca Ferguson for her perfect lip-sync to the song when she acted as Jenny Lind), "A Million Dreams" by Ziv Zaifman, Hugh Jackman, and Michelle Williams, "This Is Me" by Keala Settle and The Greatest Showman Ensemble, "The Greatest Show" by Hugh Jackman, Keala Settle, Zendaya, Zac Efron, and The Greatest Showman Ensemble, and "Tightrope" by Michelle Williams. Well, that's nearly half of the album, hahaha. I think Benj Pasek and Justin Paul have done a very great job :) 


EPILOG

 

Kembali ke analogi geprek cabe 15 dan teh manis hangat, meskipun berakhir dengan kekecewaan, gurihnya ayam goreng dan citarasa garam, bawang, dan cabe masih membekas nikmat di lidah saya.

To remind you, these are my personal opinions. So it's up to you whether you'll agree with me or not. Saya pun bukan ahli sinematografi atau semacamnya. Saya hanya seorang movie-and-storytelling-nerd yang gemas melihat hasil produksi yang kurang memuaskan. Hehe.

I'd be very happy to start a discussion about the movie. If you have any other opinion please drop a line in the comment box below.

Thank you for your time and I hope to see you in another movie review :D


Yogyakarta, 13 Januari 2018
Di dalam kamar kos di sekitar McD Jakal

MUSIC

#nowplaying - October 2017 (Taemin, Polka Wars, Doyoung, Sejeong, Sunmi, Jung Jaehyung)

Oktober 31, 2017


Hai, jumpa lagi di segmen #nowplaying. Di bulan Oktober ini, tidak terlalu banyak lagu yang masuk di playlist saya dibanding bulan sebelumnya. Setelah dilihat-lihat, sepertinya saya semakin pasti dalam menyelami dunia K-Pop lagi, melihat dominasi playlist kali ini adalah dari oppa, eonni, dan ahjussi dari Korea, hehehe.


[WARNING] 
it is very very long, as I want to appreciate the song as much as possible, hehe


#taemin #태민 #move #polkawars #seek #doyoung #sejeong #별빛이피면 #starblossom #sunmi  #가시나 #gashina #jungjaehyun #그댄모르죠 #정승환 #jungseunghwan #geudaenmoreujyo #youneverknow


Taemin - "Move"

 

Artist: Lee Taemin
Album: Move
Released: October, 2017
Genre: Pop
Label: SM Entertainment
Lyrics: 서지음 (Seo Ji-Eum)
Composer: Curtis A Richardson, Adien Lewis, Angelique Cinelu


Perjalanan Seorang Taemin

Izinkan saya memulai ini dengan membicarakan Taeminnya dulu, cause honestly speaking, Taemin sangat mengagumkan. Bukan hanya karena single keluarannya kali ini sangat bagus dan epic, tetapi karena perkembangan mengesankan yang dia lalui: sejak rambutnya masih model batok, hingga sekarang bisa dibilang ia bukan lagi sekadar selebriti/idol, melainkan artist dalam arti sesungguhnya, "seniman".

Berani ya saya bilang gitu? hehe. Ya gimana, soalnya saya merasa Taemin pantas mendapatkan predikat tersebut. Sejak dirinya debut solo beberapa tahun lalu, aura kemandirian dan kematangan karakternya mulai muncul. Waktu itu saya paling terkesan dengan lagu "Drip Drop" yang menunjukkan orisinalitas dari seorang Taemin, meskipun belum sekuat sekarang lantaran beberapa aspek dalam musik dan produksi dia waktu itu terasa sangat ngikutin trend (instead of creating the trend).

Kalau melihat Taemin zaman rambut batok, tidak ada yang menyangka ia dapat mencapai keterampilan seperti sekarang (kecuali skill dance-nya yang memang sudah outstanding sejak debut). Taemin rambut batok di mataku dulu adalah magnae yang cukup pemalu dan kurang pandai mengekspresikan diri melalui suaranya. Hal itu tergambarkan di awal masa SHINee where he didn't get much parts. Namun, setelah sekitar 3-4 tahunan, dia mulai menunjukkan perkembangan skill menyanyi and he started to gain confidence. Ulala~


Feminin, Matang sebagai Seniman

Nah, ada satu topik yang gak bisa g dibicarakan kalau kita sedang membicarakan Taemin. Meskipun di debut solonya dia sudah mencoba menunjukkan sisi maskulinnya, rumor dan kontroversi soal orientasi seksual Taemin masih jadi bahasan hingga sekarang. Poor him, saya selalu ngekek kalau lihat dia dibully soal itu di reality show Knowing Bros :v (maaf, saya penggemar yang jahat, wkwk).

Kata mereka, "selesaikan masalah dengan masalah itu sendiri".
Dalam "MOVE", Taemin justru menegaskan karakternya dengan detail koreografi yang feminin. Setelah dipikir-pikir, menurut saya ini keputusan yang sangat luar biasa. Feminin telah menjadi bagian dari diri Taemin, dan bukan Taemin jika sisi feminin itu hilang. Pilihannya ini merupakan bentuk keikhlasan dan aksi damai dalam mencintai dirinya sendiri. Inilah salah satu indikasi kematangannya sebagai seniman, menemukan dan menyatakan karakter aslinya. Terlihat dalam "MOVE", setiap gerakannya sangat jelas, sangat pasti, tidak terlihat keragu-raguan.


MOVE dan Kebebasan Berkarakter

Soal musik dan cara Taemin menyanyikan lagu ini:
Musiknya sendiri sangat antimainstream dibanding lagu lain yang dirilis dalam rentang waktu yang sama. Ya itu, bukan musik yang disajikan untuk mengikuti trend atau selera pasar, tetapi sebagai sebuah pernyataan/ekspresi diri. Filling melodi menggunakan suara manusia ke drum loop, entah apa istilahku benar atau salah, yang jelas itu keren. Oiya, flow lagu ini sangat asyik, mulai dari senyap, kemudian menghentak, lalu mencapai klimaks saat mencapai bridge, dan "geudaero repeat~". Ugh, jempol.

Suara Taemin di sini muncul dalam tone yang pas banget dan karakter suaranya yang mendesah-desah itu berhasil dihighlight dengan baik. Dalam comeback stagenya, alih-alih lip-sync seperti artis SM Entertainment pada umumnya, Taemin menyanyikan "MOVE" secara live! And he nailed all the note. Baksu!

Bicara soal album, personally aku sangat suka covernya:


"Any expression nor any sentences can contain all of you.
We will be perfect as we are now."

BAM! Isn't that awakening?

Terlepas dari lirik lagunya yang saru dan kurang sesuai dengan prinsip saya (hehe), saya sangat menikmati lagu ini sebagai sebuah selebrasi kebebasan berkarakter. Sempatkan melihat MV "Move" versi 3 untuk melihat letupan-letupan ekspresi lain dari Taemin yang berkolaborasi dengan koreografer asal Jepang, Koharu Sugawara.


Polka Wars - "Seek"



Artist: Polka Wars
Album: EPNY
Released: October, 2017
Label: Helat Tubruk
Composer: Karaeng Adjie


Canggih dan Alim

FYI, sejak kuliah, orientasi musikku meluas ke ranah indie lokal. Setelah Payung Teduh dan Banda Neira, salah satu band yang paling awal masuk ke playlist saya dan saya ikutin terus sampai sekarang adalah Polka Wars.

Awalnya gak sengaja nonton MV debut mereka, "Mokele". Tanpa memahami liriknya, saya jatuh cinta duluan dengan musiknya. Secara sekilas, musik mereka rasa "bule". Selain dari liriknya yang dalam bahasa inggris, corak musiknya pun gak seperti dari Indonesia, ya kebarat-baratan gitu. Komposisi mereka bagus banget. Canggih lah pokoknya. Kalian bisa cek performance mereka di salah satu episode Sounds from the Corner.

Setelah dengerin albumnya, Axis Mundi, dan mengenal lebih dalam, mereka ini terkenal juga sebagai band yang religius. Dari background hidup, mereka sama-sama lulusan SMA Al-Azhar (well, aku ndak tahu sih al-azhar jakarta sedalam apa muatan agamanya, but sepertinya cukup mengena di diri empat personilnya hingga), keempat dari mereka menyisipkan nilai-nilai agama dan kehidupan dalam lagu mereka. But, diksi mereka canggih banget, lebih-lebih dalam bahasa inggris. Mereka bilangnya sih karena mereka pemalu, makannya liriknya diplintir-plintir biar tidak terlalu gamblang. But, honestly aku sulit mengurainya kalau ndak baca penjelasan di internet.

Tapi ya, namanya karya seni ya, kalau sudah dilepas ke publik itu ya jadi terserah publik menginterpretasinya seperti apa. Ya to?

(Btw, banyak hal tidak aku jelaskan soal mereka: soal menang Converse Rubber Track, rekaman di New York, detail makna lagu dan muatan agamanya, dll dll. Nanti jadi puanjang kalau diceritakan semua.)

Setelah rilis album pertama tahun 2015, Oktober kemarin mereka liris album lagi (mini album sih), didahului lagu berbahasa Indonesia mereka yang pertama "Rangkum" pada bulan Juli terus diikuti "Seek".

Makna "Seek"

Setelah "Rangkum" yang besuasana lokal dan dapat pujian dari banyak kalangan, mereka balik "bule" lagi dengan "Seek", wkwk.

"Seek", mencari. Apato iki maksud lagune?
Lama aku memutuskan untuk mendalami liriknya, terlalu terbuai dengan alunan gitar listrik yang sederhana tapi membuat candu (hasyah).

Banyak orang yang mengulas lagu ini dari official lyric videonya yang menampilkan potongan-potangan gambar kota New York, kemudian mengaitkannya dengan proses pembuatan dan rekaman lagu ini yang bertempat di sana. Apik, tak akoni lagune apik tenand, videonya juga epic. But, maknane opo ki aku gak nemu ulasan itu di Internet.

Akhirnya aku mencoba untuk menginterpretasi sendiri. Begini:
- "I long for the light to veil upon me while I voluntarily participate in some dark, trickery"
Dimulai dengan menggambarkan diri manusia yang tidak mengerti apa-apa, haus hidayah, tapi masih membiarkan dirinya tidak tahu dan berbuat buruk/maksiat. Manusia ini terombang ambing dalam pencariannya.
- "Leaning on, swayin long the bigger arc going to sovereignty, pleading all what would be an entity"
Namun, keinginan kuat untuk mencari sesuatu yang lebih penting dalam hidup mengantarkan manusia ke sebuah penemuan, hidayah, pencerahan, cahaya (makanya judul awal lagu ini adalah "Long for the Light").
- "Take it in and wear it all around, bring it in all the world now they can see"
Kemudian, hidayah yang mengantarkan manusia pada ilmu (agama yang merupakan pedoman hidup, penerang, manual book seluruh umat manusia) itu harus dimaknai dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, ke mana pun, di mana pun, kapan pun, hingga semua orang bisa melihatnya dan menjadi terinspirasi.

Singkat kata, menurutku lagu ini menceritakan proses perjalan seorang manusia akhirnya menjadi agen dari agamanya, yang aku yakini di sini adalah Islam sebagai agama yang saya dan anggota Polka Wars sama-sama anut. Polka Wars ingin menggebrak pikiran kita untuk berpikir lebih jauh ke depan, after-life, bahwa hidup bukan untuk hidup itu sendiri. Aseeek. Jadi teringat postingan saya yang satu ini: Self-Consciousness: Dalam Pencarian Jati Diri

Setelah menginterpretasi liriknya, saya jadi tambah suka dengan "Seek" karena bisa mewakili perasaan saya selama ini, dan juga karena betapa kuat dan mendalam pesan yang bisa diambil darinya.
Ingat, ini interpretasi saya ya, boleh setuju boleh tidak. Bukan berarti Polka Wars bermaksud seperti yang saya tuliskan lho ya ^^v


Polka Wars Berproses

Kalau bahas lagi musiknya, setuju dengan pendapat Sdra Felix Dass di tulisan ini, musik mereka terdengar lebih matang dibanding saat Axis Mundi. Dalam arsitektur, ibarat Estetika Dasar, album pertama mereka, "Axis Mundi", mungkin merangkum terlalu banyak ide. Beberapa lagu kurang mantap atau kurang nendang, mungkin karena tiap elemen komposisi ingin stand out, padahal cara mengomposisinya udah kreatif banget. I'm not saying that Axis Mundi was bad, but EPNY jelas lebih matang. Semuanya lebih pas, fokusnya keliatan, enak. Cukup terasa lah progress Polka Wars dalam meramu lagu-lagunya.


Packaging EPNY : Dolanan Zaman Bocah

Kalau kamu notice, di official lyric video "Seek", ditampilkan raut-raut geometris seperti yang ada pada cover album EPNY.

EPNY Album Cover

Kalau kamu notice lagi, di beberapa scene di official lyric video "Seek", raut-raut geometris itu terkelupas lapisan abu-abunya, seperti yang pada gambar di bawah ini:


dan kalau kalian pernah unboxing album EPNY, keempat bentuk geometris itu merupakan abstraksi dari empat benda (yang kayaknya penting, tapi g dijelasin) bagi album EPNY.

I was very sure kalau lapisan abu-abu yang ada di cover album tersebut "kerok-able" (iya, bisa dikerok kayak ngerok kode cantik berhadiah di kemasan makanan) dan kalau sudah dikerok, yang muncul adalah benda-benda yang diabstraksikannya.

My friend, Dida (IG: dida.khalida) who bought the album didn't believe me, "Aku gak lihat ada orang yang ngegituiiin," katanya. Dia bahkan merengek, "ih, Ufi, jangaaan," like she was so sure i was about to scratch it, wkwk. Of course i didn't scratch it. But, if I have one, I'm 100% sure will do that after looking at this:


Haha. Very fun, isn't it?
Menurutku Polka Wars udah menghadirkan sesuatu yang sangat menarik. Konsep kerok-kerokan ini match well dengan konsep "pencarian" dari EPNY yang dihighlight di lagu "Seek". And they let us play during the seeking process! Mereka bahkan ngasih paket merchandise dengan mysterious box yang isinya ternyata finger spinner, wkwk.

Live our life happily! ^^


Doyoung & Sejeong - "Star Blossom"


Original Title: 별빛이 피면 (byeolbit-chi pimyeon)
Artist: Doyoung (NCT) & Sejeong (Gugundan)
Project: SM STATION Season 2
Released: October 13, 2017
Label: SM Entertainment
Genre: Ballad
Lyrics: 비록 (B-Rock), J-Lin
Composer: 비록 (B-Rock), J-Lin, 주대건
Arranger: 비록 (B-Rock), J-Lin

FYI, kalau kamu belum tahu, STATION adalah project portal musik milik SM Entertainment, salah satu agensi terbesar di Korea. STATION ini semacam media kolaborasi artis SM dengan artist lain artis di luar SM, dan tidak tertutup pada kalangan penyanyi, rapper, atau composser, tapi ada juga kolaborasi dengan dancer dan art performer lain. STATION juga jadi media promosi buat artis-artis SM yang lagi vakum atau ndak comeback, supaya nama mereka tetap familiar di telinga masyarakat penikmat Kpop.

Tentang Doyoung (you can skip this fangirling part, hehe)

Sebenarnya aku bukan fans setia STATION, tapi ketika nama Doyoung muncul, HYAK, SIKAT, wkwk. Dia ini member NCT, boygroup paling muda dari SM. If you aware dengan dunia Kpop dan fangirling, gak mungkin ngomongin idol tanpa ngomongin visual, skill, umur, dan personality. Nah, Doyoung seumuran dengan saya, lebih tua dikit (alhamdulillah, di tengah gempuran artis baru yang makin muda dan saya yang mulai jadi noona-noona, wkwk). Fitur wajahnya sangat unik buatku, sangat appealing, apalagi di MV debut NCT "Without You". You know, terlihat mas-mas tapi g boros kayak Jaehyun (wakaka, maafkan aku Jaehyun). Terus badannya tinggi~ ulala. Soal skill, aduduh, menurutku vokal dia sangat stabil, lebih-lebih dengan koreografi NCT yang mecicilnya minta ampun. Terus dia lucu dan sangat bright, wgwgwg.

Tentang Sejeong (you can skip this one as weel, wkwk)

Selama kuliah, aku sempat agak vakum dari Kpop. Balik-balik udah ada I.O.I wkwk. Selama mereka promosi aku cuma kebagian mereka promosi "Very Very Very", terus tau-tau bubar, wkwk. So, segala tentang Produce 101 Season 1, I.O.I, dan tetek bengeknya ini aku gak terlalu ngikutin. Terus si Sejeong ini meskipun dia runner up Produce 101, masih under-rated dibanding Somi, apalagi setelah I.O.I bubar (all hail korean media). All that i know, Sejeong is a very bright girl. Terus, mainlah dia jadi pemeran utama di drama School 2017. Then, oke, sekarang kamu jadi aktris. Nah, waktu Sejeong muncul duet sama Doyoung, penasaran dong, notabene saya hampir ndak pernah aware ketika Sejeong nyanyi.

Pertama kenal dengan lagu ini, saya nonton MVnya. Audio maupun visual sama-sama sangat menarik sampai akhirnya saya langsung jatuh cinta dengannya.

Audio "Star Blossom"

Sejeong yang tadinya saya underestimate, ternyata adalah seorang penyanyi yang sangat baik (gimana sih, fi?). Suaranya bersih, kontrolnya bagus di tengah komposisi lagu yang sangat dinamis. Falsettonya tetap terdengar powerful. Doyoung, tak saya sangka-sangka menyanyi dengan sangat lembut, bahkan fully falsetto di verse kedua. Komposisi vokal mereka berdua juga apik. Adlib-adlib yang muncul di chorus kedua hingga akhir membuat lagu ini tidak membosankan dan ingin kita dengarkan terus sampai selesai.

Musiknya! Tidakkah ini mengingatkanmu pada film musikal "La La Land"? Ala-ala dansa, wals, atau apalah itu. Interlude setelah bridge sangat ear-pleasant. Kemudian, di chorus ke-3 instrumen yang main tambah sedikit dan lagu pun diakhiri dengan cressendo (?) suara violin/cello. Epic.

Visual & Storyline of "Star Blossom" 

First, colour gradingnya sangat creamy. Bikin baper dan pengen jatuh cinta juga. Hahaha.

Aku suka cara mereka pakai teknik frame-cropping untuk menceritakan setting waktu tertentu. Dari objektifku, pada scene-scene yang menunjukkan cerita, kalau framenya full tanpa crop, itu menceritakan "masa sekarang" yang menghighlight lirik tentang kegembiraan dan skinship effect ketika bersama dengan pasangan kita, potrayed very well by Doyoung and Sejeong. Aaaaak, bapeeeer, wkwk.

Kalau framenya dicrop atas bawah, itu menceritakan keseharian mereka ketika sendiri. Kalau framenya dicrop kanan kiri, itu menceritakan bagaimana mereka bertemu. Yang paling aku suka dari cropping yang ketiga ini, sebagian konsepnya adalah video amatir, video yang kesannya unintentionally taken. Apa ya, bikin kesan bahwa pertemuan mereka berdua tidak tidak pernah diduga sebelumnya, and that what makes it more fluttering, kan? wkwk.

Dengan tiga teknik itu, mereka nyampur adukin setting waktunya. Awalnya mungkin terkesan mereka yang di masa sekarang dan yang tergambar dalam masa lampau adalah karakter yang berbeda. Baru pada interlude setelah bridge yang ear-pleasant itu, ditampilkanlah flashbacks yang lebih runtut dari scene-scene yang ada, and viola, kita dapat benang merahnya.

Ada yang sangat menarik dari story line MV "Star Blossom":
Sejeong digambarkan sebagai seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pelayan di sebuah cafe. Doyoung di sini diceritakan sebagai Doyoung sendiri, seorang idol, member dari NCT. Videomakernya dengan brilian menggunakan momen ketika NCT syuting "Boy Video" (Doyoung menggunakan pakaian yang sama seperti pada "Boy Video", terlihat pula cuplikan beberapa member NCT di video). Trick ini membuat ceritanya terkesan sangat nyata. dan yang tidak kalah penting terasa sangat relatable bagi fans kpop karena seperti dalam fan-fiction, ketika kamu membayangkan dirimu menjalin hubungan dengan biasmu.

Oh, aku ingin jadi Sejeong. Hahaha.

Reviews and Popularity

Lagu yang menurutku dikemas dengan sangat baik ini sayangnya kurang mendapat perhatian. Ketika aku cari materi untuk nulis review ini, aku hampir gak menemukan review di youtube, baru ketika aku cari via google, ketemu deh beberapa blog yang bahas review lagu ini (bisa klik ini, atau ini)

Dari youtube reaction, terlihat yang bikin reaction cenderung bukan youtuber populer. Ini nunjukin bahwa lagu ini gak nyampe ke telinga orang-orang keren. What. Ngomong apato aku ini? Wkwk

Apalah itu. Yang jelas, aku merasa bahagia ketika menikmati lagu ini. Kuharap kamu dan lebih banyak orang lain juga begitu :)

Sunmi - "Gashina"


Original Title: 가시나 (Gasina)
Artist: Lee Sunmi
Label: MAKE US Entertainment
Released: August 22, 2017
Genre: Dance
Lyrics: TEDDY, 선미, Joe Rhee, 24
Composer: TEDDY, 24, Joe Rhee
Arranger: 24, Joe Rhee


Saya akui telat banget sih saya suka lagu ini.

Dibanding dua single dia yang sebelumnya, "24 Hours" dan "Full Moon" waktu masih di JYP, ini dia lebih gila lagi, effortlessly. Style yang dia pakai juga agak beda, lebih banyak unsur-unsur pemanis dibanding dua single sebelumnya yang tampilannya lebih minimalis.

Di MV kita bisa lihat seberapa savage dan ekspresifnya si mbak Sunmi ini. Selama penampilan di panggung juga begitu, the way she makes twist with her expression: aegyeo dengan senyum merekah lalu langsung datar begitu masuk killing part: "tet tet tetet tet tet". And of course we can not leave out the iconic shooting dance, hahaha. It's going very viral that everyone is following the dance.


I'm not fully fond to the song or Sunmi that I can't write a lot about them, but this song keeps get into my playlist everytime I listen to musics. Waktu pertama dengar sebenarnya g langsung suka, tapi setelah beberapa kali dengar jadi ketagihan. Lagunya tak cuma sekedar bagus tapi berhasil memikat orang-orang dan memberikan semangat tersendiri, terutama untuk bersikap cool dan bangga pada diri sendiri meski orang lain berkebalikan dengan kita :p


Ini ada mas-mas dari Form of Therapy yang membuat reaction video dan mereview sedikit soal MV Gashina, semoga nambah wawasan dalam menilai lagu ini :")

Jung Jaehyung - "You Never Know"




Original Title: 그댄모르죠 (Geudaenmoreujyo)
Artist: Jung Jaehyung (piano) & Jung Seunghwan (vocal)
Label: Antenna Music
Released: October 9, 2017
Genre: Ballad
Composer: Jung Jaehyung
Lyrics: Jung Jaehyung, Jung Seunghwan

I was so crazy about Yoon Jongshin during September and almost downloading all of his monthly projects albums, haha. After Snowball Project ended, he was announced to appear in KBS's pilot program, "Hyena on the Keyboard". The program was aiming to show how four korean top composer produce their hit songs. Yoon Jongshin was casted as one of the "hyena" along with the other three, Jung Jaehyung, GRAY, and Hui of Pentagon.

"Hyena on the Keyboard" poster. (left to right, top to bottom) Yoon Jongshin, Jung Jaehyung, GRAY, Hui.

I listened to the album, containing four songs produced during the programs, right away after its release. Kukira mereka punya tema khusus untuk lagu-lagunya (masih kebawa Snowball Project), ternyata tiap komposer menyajikan lagu yang benar-benar berbeda satu sama lain, meski tanpa sengaja ada dua kubu terbentuk di sini: kubu ballad (diisi generasi tua, Yoon Jongshin dan Jung Jaehyung) dan kubu electronic (diisi generasi muda, GRAY dan Hui).

Yoon Jongshin's song, "Trace" is marvelous, but I can not resist the melancolic ear-lingering melodies from Jung Jaehyung's "Geudaenmoreujyo". It's just so sad but beautiful at the same time, with only Jung Seunghwan's voice, piano, and strings (well, i think the strings really done a great job in accentuating the sad feeling).

Jung Jaehyung
The song goes very simple and calm in the start, then smoothly become more complicated and intense as it reaches the chorus. During interlude, Jung Jaehyung repeating a pattern that gives somehow a sad but calm melody, guiding us back to the verse, but with more miserable and complicated arrangements on the instruments.

Speaking about the lyrics, the arrangement really expresses and accentuates the feeling of each sentence, seperti pada verse 1 (00:56-01:09) "dasi saranghal su isseulkka, nan duryeowojyeoyo" (Could I love again? I'm afraid). Jung Jaehyung also has a unique way to cut the sentences between bars that somehow makes the listeners curious about the next word, which is an ironic one. Seperti pada akhir chorus "doragago sipeun goseun - neo hajiman ije..." (You are where I want to go back. But now you...), kata selanjutnya dilanjutkan di baris selanjutnya "ga..." (go). Lebih-lebih kata "ga" dibiarkan terdengar menggantung, memberi kesan speechlessness dari si pelaku pada lagu. Tentu saja ini menambah kesedihan pada lagu tersebut.

The last chorus really made it as Jung Seunghwan shouts out through his lung "gomawoyo uriui sarangiiiii" (Thank you for our love) *you are welcome, Seunghwan-ssi. And then, after a series of soft words "doragago sipeun goseun neo hajiman ije.. ga..." (You are where I want to go back. But now you... go...) and, after previously left us with the speechlessness of the word "ga" in the first chorus, they finally continue with "dorabojima" (don't look back) *cry *dead.

And I thought the song is gonna ended like that. But Jung Jaehyung once again gives us a series of melodies with his piano, repeating the interlude pattern, then after a shord silence, he continues with a brighter melody, portraying the subject of the song re-conciliates with his sadness, mengikhlaskan diri. Subhanallah~

*you can find the whole lyrics and lyrics translation in this post.

I listen to the song for about a month, without any intention of knowing more about Jung Jaehyung. Baru setelah nonton "Hyena on the Keyboard", I learned that Jung Jaehyung is a very talented and famous composer in Korea. However, he is indeed has been in-active in the past few years. If you're an old k-poper (at least 2nd generation fan), you might remember seeing him featured in IU's MV, "Good Day" where he played some kind of eccentric music-fairy character.

Jung Jaehyung as a music fairy character in IU's "Good Day" MV
In real life, he is indeed as eccentric and unique. Compared to other composers in the program, Jung Jaehyung is very moody when it comes to composing, typical artist who work for the sake of art itself. He needs to be in a certain conditions and settings in order to work. And when he's stuck, he would go surfing. Very unique right? Wkwk.

Jung Seunghwan

Talk a bit about Jung Seunghwan, he's a singer under the same label with Jung Jaehyung, Antenna Music. He has been known for his ballad performance. One of his hit single is "Another Miss Oh"'s OST, "If It Is You" yang berhasil menyayat-nyayat hati pendengarnya. Sunny of SNSD who became the host of "Hyena on the Keyboard" commented after Jung Jaehyung & Jung Seunghwan's performace, "I understood why every time Jung Seung Hwan puts out a song, women love his songs and I understood why it stays so high on charts. I felt like I wanted to give him my heart."

Girls-Generation,Sunny,jung-seung-hwan
A screenshot from the program when Sunny complimented Jung Seunghwan.

So do I, Seunghwan-ssi. So do I :")))

Good news, a month after the program was ended with two episodes, it has been stated that "Hyena on the Keyboard" is going to be a regular program. Wow, i personally really enjoy watching the show. You'll never get bored to watch people producing art, you know :)
Whoever the cast is, I think it will keep showing a great show.

______________________________

So, those are five songs that became my favorite in October 2017. What i'm about to mention are some songs that sadly couldn't make it to the top 5:


[ H O N O R A B L E   M E N T I O N ]



The Uni+ - "My Turn"


Following Produce 101 by Mnet, KBS launched a slightly similar program but mainly to give another chance to idols who have already debuted but don't get much popularity. "My Turn" was released in the mid of October as the main track of the program, The Uni+ (re: the unit). The MV was said to be worth over 930 million won (approximately $825,800), featuring Rain at the opening, 63 males dan 63 females idols/trainees.

The combination of male and female key and character in the song is very interesting you know. Although there is an akward transition before verse 2, the song is still very great as each male and female part can stand out as they are.

I keep an eye on the program. So far, it is interesting to watch as it offers a different perspective than Produce 101. I might write something about it. Wait fot it :p


Highlight - "Can Be Better"


Highlight is becoming more and more mature after they decided to work with their own label and change their name from BEAST. Following the previous two singles, "Plz Don't Be Sad" and "Calling You", Highlight maintain their colour of music and uniqueness with "Can Be Better". Bahkan mereka tampil lebih playful dan komikal di MV ini.

Sepertinya, dengan matangnya Highlight, mereka mulai lebih banyak merambah topik-topik yang lebih general, gak lagi melulu soal cewek. Lagu ini meng-courage kita untuk tetap semangat menjalani hari dan menjadi diri sendiri, meski dunia seakan bersikap buruk pada kita. As I read the lyrics, I just can not agree more. These are some selected lines from the song:

It can’t be helped
Don’t try to hold onto what has already left
Because this time, this pain will pass in the end
_____

Don’t wanna get too hung up on something like love
I love myself, I’m more precious than anything else
Don’t wanna satisfy things that don't fit me
'Cause I still like being myself

_____


Not everything can be good, not everything can be bad
Not every single repeating day can be special
Why worry about something that won’t even happen?

The song was released during a hard time I faced regarding collage stuffs. The song cheered me up and kept me working rather than worrying and not even doing anything. Thank u, Highlight :")

Make sure you CC button is turned on when you play the MV :D


Epik High X Lee Hi - "HERE COMES THE REGRETS"


Epik High came back with a new album! "We've Done Something Wonderful" (WDSW)
The album is a bit different compared to their previous one, "Shoebox" as it is (i think) musically less impactful. But I guess when it comes to Rapping, we all should focus more on the lyrics :")

But, since I'm not Korean and don't understand korean language that well, only few songs from WDSW that caught my ears in the first listening. Salah satunya adalah "HERE COMES THE REGRET". Yes, in capital. Sengaja kayaknya, to highlight the panic feeling of regreting something.

The video was released about a month after the album was introduced to the public, beautifully shot during their WDSW Concert. The song is indeed very impactful, especially during chorus, companied with intense drums, beats, and some electronic-siren sound. And I couldn't pleased more than hearing Lee Hi's vocal adlib during the bridge along with intense electric guitar melody. The song title is indeed has to be written in capital :)


_________________________

selesai ditulis pada 2 Januari 2018

[LYRICS] (Han|Rom|Eng) 정재형 (Jung Jae Hyung) – 그댄 모르죠 (You Never Know) _With 정승환 (Jung Seung Hwan)

Oktober 16, 2017

From the #nowplaying October 2017 post, you may know that I really like this song. As I couldn't find any english translation of the song, I decided to post one. Thanks a lot, Google Translate :")

Hangul

(cr: klyrics.net)

그댄 모르죠 내가 얼마나
나를 미워하고 원망하고 있는지
무너진 햇빛을 넘어서
쓰러진 길을 왔죠

폭풍 같았던 행복하고 불안한
거센 파도 나를 집어 삼켰죠
다시 사랑할 수 있을까
난 두려워져요

세상이 다 무섭고 힘들 때
도망치고 싶을 때
난 그대를 기억했어요

고마워요 우리의 사랑이
돌아가고 싶은 곳은
너 하지만 이제 가

각오해야죠 우리 헤어진다면
이런 사랑 다시 없을 거란거
아름다운 이별따위는
믿지 않을 거죠

세상이 다 무섭고 힘들 때
도망치고 싶을 때
난 그대를 기억했어요

고마워요 우리의 사랑이
돌아가고 싶은 곳은
너 하지만 이제 가
 
돌아보지 마


Romanization

(cr: klyrics.net

geudaen moreujyo naega eolmana
nareul miwohago wonmanghago issneunji
muneojin haesbicceul neomeoseo
sseureojin gireul wassjyo

pokpung gatassdeon haengbokhago buranhan
geosen pado nareul jibeo samkyeossjyo
dasi saranghal su isseulkka
nan duryeowojyeoyo

sesangi da museopgo himdeul ttae
domangchigo sipeul ttae
nan geudaereul gieokhaesseoyo

gomawoyo uriui sarangi
doragago sipeun goseun
neo hajiman ije ga

gagohaeyajyo uri heeojindamyeon
ireon sarang dasi eopseul georangeo
areumdaun ibyeolttawineun
mitji anheul geojyo

sesangi da museopgo himdeul ttae
domangchigo sipeul ttae
nan geudaereul gieokhaesseoyo

gomawoyo uriui sarangi
doragago sipeun goseun
neo hajiman ije ga

doraboji ma


English Translation

(Google Translate and self-interpretation)

You must have not known
How much I hate and blame myself
Beyond the shattered sun light
I came down the road
 

 
Happy and uneasy as a storm
I swallowed the big waves
Could I love again?
I'm afraid


When the world is scary and tough
When I want to run away
I remembered you


Thank you for our love 
You are where I want to go back
But now you go

We should be ready if maybe we'll break up
This kind love will never happen again
A beautiful farewell
I will not believe it


When the world is scary and tough
When I want to run away
I remembered you


Thank you for our love 
You are where I want to go back
But now you go


Don't look back

____________________

January 2, 2018

DIY

Ecobrick dan Sampah-Sampah di Masa Depan

Oktober 08, 2017


An Ecobrick is a plastic bottle packed solid with non-biological waste to make a re-useable building block.  Best of all, you don’t need any fancy machines, special skills, engineers or even politicians to get started. - Ecobricks.org


PERTEMUAN-PERTEMUAN SAYA DENGAN ECOBRICK



Aku motret ini sekitar dua tahun yang lalu di Jalan Malioboro sebagai sebuah instalasi seni. Waktu itu aku blas g ngerti maksud instalasi ini, tidak sepenuhnya sadar juga kalau yang di dalam itu adalah sampah plastik.

Pertemuan keduaku dengan ecobrick adalah sekitar satu setengah tahun lalu, dengan sebuah keluarga modern di sebuah desa gerabah di Bantul yang mengajarkan masyarakat menanggulangi sampah plastik dengan memasukkan dan menekan sampah tersebut dalam botol air mineral bekas.

Pertemuan ketiga terjadi di FKY 2017. Di salah satu stand, ditampilkan sebuah instalasi ecobrick dalam bentuk modul-modul segienam yang dapat disusun menjadi sebuah panggung. Satu modul terdiri dari 12 botol ecobrick yang disusun terbalik 180 derajat dan direkatkan menggunakan sealant. Satu modul sendiri dapat digunakan sebagai sebuah stool (dingklik sob, dingklik).

Pertemuan terakhir terjadi beberapa hari yang lalu di sosial media, ketika saya sudah mulai mencoba zerowaste lifestyle.

Pertemuan pertama dan ketiga terasa sangat inspirasional. Gimana g kreatif? Itu sampah yang bertebaran di mana-mana, jadi mampat dan bisa jadi dingklik. "Akhirnya, kita menemukan cara menanggulangi sampah guys!"

Di pertemuan keempat, pendapatku berubah: "Lantas, kalau sudah begitu, berarti bisa konsumsi plastik sepuasnya?"


WHAT AN ECOBRICK CAN DO

Pernyataan ku sebelumnya terdengar sangat sinis dan skeptis terhadap ecobrick ya? wkwk
G kok, enggak :) Setelah ditelusur lebih jauh, aku sendiri merasa ecobrick itu keren.

PHYSICALY, dia bisa dibuat menjadi:

1. Stool, Panggung, Any Horizontal Surface

ecobricks.org

ecobricks.org

Ternyata ini namanya Misltein Modules (Modul Milstein), persis seperti yang aku temui di FKY. Satu modul=12-16 botol disusun segienam. Kalau mau bikin permukaan yang lebih besar tinggal dijejer-jejerin modulnya.

2. Vertical Structure

ecobricks.org

ecobricks.org

Kalau yang ini namanya Maier-Dielman Modules.Satu modul total 16 botol, dengan dua botol di tengah posisinya terbalik, fungsinya buat mengunci sambungan dengan modul lainnya.

3. Bahan bangunan

ecobricks.org

ecobricks.org

ecobricks.org

kalau yang ini macem-macem caranya. Intinya dia dikombinasikan dengan bahan bangunan lain, kayak lumpur atau beton.

Ada beberapa cara lain, sob. Bisa cek sendiri di: http://www.ecobricks.org/build/


Nah, yang paling penting,
ENVIRONMENTALLY, dia bisa:

1. Mengikat racun plastik dari udara bebas
Iya, sampah itu beracun guys. Partikelnya lepas ke udara, ke tanah, ke air, mencemari hal-hal yang kita konsumsi setiap hari. Baru ngeh? Sama.
Nah, kalau dibotolin, plastik-plastik ini kan ga jadi sentuhan sama udara. So, aman :)
Lebih lanjut soal racunnya plastik bisa dilihat di sini.

2. Mencegah plastik didaur ulang secara industrial.
You know, kalau plastik didaur ulang di pabrik itu butuh energi dan emisi polusi yang tinggi juga. lagi pula, mostly sampah-sampah tersebut turun derajat setelah didaur ulang. So, dibanding dibuat ecobrick, menyerahkan sampah-sampah itu ke industri daur ulang bisa menghasilkan emisi polusi yang lebih tinggi :0

3. Meningkatkan kesadaran masyarakat
Pertama, waktu kamu mulai bikin ecobrick, kamu mulai belajar untuk bertanggung jawab sama sampahmu sendiri. Setelah kamu sadar dengan banyaknya produksi sampahmu, itu bakal mendorong kamu buat mengurangi konsumsi sampah, terutama sampah plastik. You'll know once you try :D


MITIGASI

Nah, pemahaman terhadap peran ecobricklah yang musti dilurusin.
Kalau memperhatikan poin terakhir di bahasan sebelumnya, aku rasa kalian semua yang baca udah bisa paham bahwa ecobrick bukanlah solusi jangka panjang. Ia bukan pembenaran untuk tidak mengurangi konsumsi plastik. Kita gak mungkin bisa terus-terusan menanggulangi masalah sampah tanpa merubah kebiasaan kita dalam menghasilkan sampah.

Sayangnya, dari yang aku perhatikan di sekitar, pengenalan terhadap ecobrick jarang dibarengi dengan pemahaman tersebut. Itulah mengapa aku sampai mencetuskan pemikiran skeptis itu di pertemuan ke-4, hehe.

Bagiku pribadi, ecobrick adalah upaya mitigasi, untuk menanggulangi bencana sampah yang sudah terjadi. Nah, ke depannya, manusia harus punya strategi yang lebih baik dalam menghadapi masalah sampah. Sebuah pepatah populer mengatakan, "mencegah lebih baik daripada mengobati". Nah :D
Mulai dari diri kita masing-masing yang musti lebih tanggung jawab sebelum memutuskan untuk mengonsumsi apa pun, atau membuang apa pun. Butuh alasan kuat? Bisa ke Google dulu, lihat-lihat data produksi sampah per orang, atau ke link ini.

Mengurangi konsumsi sampah udah jadi tanggung jawab umat manusia seluruh dunia kalau mau hidup tentram.
tentram karena tahu sudah berkurang pula sampah-sampah yang selama ini menggunung di tempat-tempat pembuangan akhir,
tentram karena racun yang lepas udara, ke tanah, ke makanan yang kita konsumsi juga berkurang,
dan kalau kamu percaya Tuhan, setidaknya hatimu lebih tentram jika membayangkan kelak akan dimintai pertanggungjawaban soal bumi yang telah ia amanahkan kepada kita.



Magelang, 8 Oktober 2017
Ditulis sejak beberapa hari sebelumnya, tapi tak kunjung dipost karena takut salah omong.


Daftar Pustaka: Ecobircks.org

Popular Posts

Pengikut

INSTAGRAM