LEARNING

Hakikat Bersyukur

Juli 31, 2014

Bersyukur tak sekadar mengucap "Alhamdulillah". Itu namanya lamis.
Bersyukur harus diikuti rasa ikhlas atas semua yang telah ada.
Meski jauh dari apa yang diharapkan, kalau mau bersyukur, ya harus ikhlas.

Kalau masih iri sana sini, berarti belum ikhlas. Mungkin belum sepenuhnya bersyukur.

Namun, apa daya. Kita semua cuma manusia.
Tidak bisa sepenuhnya pisah dengan yang namanya iri.
Padahal itu juga bikin dosa.

Maka, tak ada yang bisa dilakukan manusia selain berusaha.
Menghindarkan diri dari sifat-sifat tak terpuji.
Minta ampun.

Lalu mungkin kita bisa melihat ke bawah.
Kemudian menyadari bahwa hidup kita jauh lebih beruntung dari orang lain.

Lalu kita akan malu.
Dan mungkin setelah itu kita bisa sepenuhnya bersyukur.

Tapi mungkin itu kelamaan.
Kalau bisa langsung ikhlas, lebih baik lagi.
Semua ada di hati mati manusia, tinggal pilih sendiri.
Mau muter-muter.
Atau dengan mudahnya menyadari, bahwa nikmat Allah jauh lebih besar dari yang kira.

Baik, buruk. Semua diberi Allah. 
Dan yang buruk menurut kita, belum tentu buruk bagi kita. Semua ditentukan Allah.

Aku memilih untuk menikmati.




Magelang, Juli 2014
Petang hari, saat mau bikin susu

FICTION

[CERMIN] Tragedi Tes Hari Pertama

Juli 05, 2014

Teman, kupersembahkan sebuah CERMIN (cerita mini) buatanku untuk kompetisi CERMIN mingguan @bentangpustaka. Peraturannya: max 200 kata dan tidak boleh mengandung kata yang menjadi tema mingguan. It's my first try. Sayang, CERMINku gagal menang, hehehe :D Jangan lupa komen ya ^^ Enjoy!

__________

CERMIN MINGGU KEEMPAT MEI 2014
Tema besar Mei 2014 : PENDIDIKAN
Tema mingguan : UJIAN NASIONAL
Judul : Tragedi Tes Hari Pertama
Penulis : Hanifah Sausan N (@Oepieck)


Tragedi tes hari pertama dimulai ketika selembar kertas yang aneh mendarat di mejaku.

Astaughfirullahal’adzim!

Segera kubalik lagi kertas itu.

Si pengawas masih mondar-mandir membagikan lembar kertas yang serupa kepada setiap anak. Kulihat sekelilingku. Teman-temanku tak kalah tercengang dari pada aku. Kami memandang satu sama lain dengan tatapan bingung.

“Tuh, kunci jawabannya sudah dibagikan. Barcode dan soal patokannya juga sudah tertera. Enak kan, tinggal salin?” si pengawas berkata dengan nada yang amat santai. Ya Allah, apa ini??

“Maksud Bapak,” ujar Mila yang duduk paling depan, “kami diminta berbuat curang?”

“Lho, kok curang? Ini namanya strategi. Strategi jitu! Biar kalian semua bisa lulus! Kalian tinggal duduk manis, terus nyalin. Gampang, kan?”

Kami semua terdiam. Pengawas yang satu lagi terlihat tak peduli. Ya Allah, apa iniiiii??

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang dan Ajik berjalan melewatiku, membawa lembar kunci itu. Senyumku mengembang dan aku turut bangkit, begitu juga teman-teman yang lain, tentunya membawa lembar kunci. Kami semua menaruhnya―separuh membanting―tepat di depan pengawas.

“Lho? Ini pada gak butuh?” ujar si pengawas. Lalu diam.

“Di kasih gampang kok gak mau. Ya sudah!”

Melihat wajah kecut si pengawas, kuacungkan jempolku ke Ajik yang dibalasnya dengan cengiran.

Kudengar si pengawas mulai menggerutu. Terserah apa katamu lah, Pak.

------

Instagram

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images