Tentang Eril dan Bagaimana Menyikapi Kepergian

Juni 19, 2022

Kepergian seorang pemuda yang istimewa mengguncang Indonesia beberapa pekan terakhir. Emmeril Kahn Mumtadz atau yang akrab dipanggil Eril, putra dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, resmi berpulang ke rahmatullah setelah hanyut di Sungai Aare, Swiss. Masyarakat Indonesia berbondong-bondong mengekspresikan duka dan dukungan untuk Eril dan keluarga, sejak diberitakan hilang hingga akhirnya jasadnya ditemukan dan dibawa pulang ke tanah air. Saya sendiri tersentuh melihat bagaimana seluruh negeri turut bersedih dan secara tulus berempati dengan peristiwa ini. Namun, perkembangan pemberitaan atau pembahasan Eril di internet dan media sosial tidak selalu mengenakkan hati.

Awalnya semua berjalan sesuai koridornya masing-masing. Keluarga Ridwan Kamil memberikan update secukupnya, sejak klarifikasi hilangnya Eril, proses pencarian, hingga ia ditemukan. Mereka juga menunjukkan kesedihan serta apresiasi pada sosok Eril dengan patut, tanpa glorifikasi yang tidak perlu. Sementara, (tidak biasanya) media massa bersikap cukup santun memberitakan peristiwa ini, dengan sabar menunggu update resmi dari Ridwan Kamil sekeluarga dan pihak yang berwenang. Media online yang lebih kecil membahas Eril dengan santun, beberapa mencoba menganalisis fenomena kesedihan kolektif masyarakat kita dan dikaitkan dengan sosok Eril itu sendiri.

Segalanya mulai terasa aneh sejak jasad Eril ditemukan, kira-kira dua minggu sejak dikabarkan menghilang. Tentu semua orang bersyukur atas hal tersebut dan semuanya ingin tahu. Mulailah terlihat bagaimana media memanfaatkan momen untuk menggaet massa, memancing kembali kesedihan, dan mengglorifikasi sosok Eril di luar proporsinya. Tak terkecuali akun-akun influencer yang selalu memberikan credit nama mereka di setiap unggahan. Saya sendiri mulai jengah dan akhirnya memilih menutup medsos di ponsel.

Berbeda dengan media yang terkesan mengulur-ulur isu, keluarga Ridwan Kamil justru cenderung bergerak cepat untuk move on dari kepergian Eril. Saya kira mereka akan stay low barang 1-2 bulan. Namun, begitu kembali ke Indonesia untuk pertama kalinya, Pak Emil langsung mengunggah kedekatannya dengan Arka, putra bungsunya yang masih kecil. Beberapa hari lalu, tak lama setelah jasad Eril dibawa pulang, Ridwan Kamil sekeluarga merayakan kelulusan Zara, anak kedua mereka, dengan nuansa gembira. Pak Emil juga beberapa kali merespons ungkapan duka netizen yang salah sasaran dengan bercanda.

Awalnya saya kaget karena dalam standar saya, ini semua masih terlalu dini. Namun, saya jadi teringat film NKCTHI yang konfliknya tentang trauma keluarga karena meninggalnya salah seorang anak mereka. Di film itu, saking sedihnya, kedua orangtua memutuskan untuk merahasiakan kepergian anak itu dari anak-anak mereka yang lain dan menganggap hal tersebut tidak pernah terjadi supaya mereka tidak perlu merasakan kesedihan yang dirasakan orang tua. Akan tetapi, sebenarnya mereka belum benar-benar ikhlas dengan kepergian anak tersebut sehingga selalu ada yang kurang dalam curahan kasih sayang yang mereka berikan kepada anak-anak yang lain.

Yang terjadi dalam keluarga Ridwan Kamil, bila saya boleh berpendapat, adalah kepercayaan yang amat besar terhadap takdir Allah dan bagaimana setiap peristiwa selalu memiliki tujuan dan hikmah. Tentu mereka bersedih, apalagi kepergian Eril amatlah tragis. Namun, mereka bisa menerima hal tersebut dan tidak melupakan apa yang mereka masih miliki sekarang, Zara dan Arka. Merayakan keduanya dengan penuh kegembiraan menjadi cara terbaik untuk melanjutkan hidup, dan barangkali menjadi penghormatan terbaik atas kepergian Eril.

You Might Also Like

0 comment

Subscribe