Selasa, 07 Desember 2010

[FanFiction] Present For You



Title : Present For You

Author : Hanifah Sausan a.k.a Oepieck

Main Cast : Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk, Kim Minra

Other cast : Super Junior member.

Rating : PG-15?

Length : Oneshot

Genre : Romance


Disclaimer : Karakter tokoh di sini adalah milik mereka sendiri. Dan plot ceritanya asli dari saya.


Halo semuanya! Kali ini saya datang dengan sebuah FF. Yup, bener. Akhirnya aku bisa nyelesaiin 1 FF. Bahagia gimanaa gitu. Sebelumnya aku mau nagsih tahu sesuatu nih:
1) Cerita FF ini terinspirasi dari kisahku bersama temanku.
2) Penjelasan yang berhubungan dengan FF ini: Jadi di sekolah aku suka ngopy" film sama temen-temenku. Nah filenya didapet dari ngopy CD filmnya. Sumpah yang ini jangan ditiru.
3) Ini FF geje banget. Ceritanya aneh deh.
4) Biarpun begitu nanti harus tetep komen!
Oh, iya, buat yang gak mudeng bahasa korea, bisa lihat notes di akhir postingan ini.
ya udah, yuk langsung aja. Happy Reading!


Minra Pov


Uriga mannage doen narul chugboghanun I bamun

Hanuren dari pyoigo byoldurun misojijyo


Nada pesan handphoneku berbunyi, “Hyukjae <3”>


________________

To: Minra

Chagiya, pulang sekolah nanti kau perlu diantar?

________________


Aku tersenyum lalu membalas:

________________

To: Hyukjae <3

Ne, oppa. Kutunggu di taman jam 3. Gomawo ^^

________________


Masih satu jam sebelum aku bertemu dia. Sebenarnya aku sudah tidak punya jam kuliah, aku hanya menunggu dia yang memang belum jamnya pulang. Aku pacar yang baik bukan? ^^

Aku berjalan ke taman kampus dan duduk di bawah pohon.

Ah… sudah sebulan kami menjalin hubungan ini. Dan aku senang aku bisa bersamanya. Aku mulai memikirkan kenangan kami berdua dan mulai tertawa. Kenapa? Karena ini lucu. Cara kami bertemu sungguh aneh dan bisa dibilang tidak romantis.

Aku masih ingat…


*flashback mode on*


Kantin sangat ramai. Aku tidak bisa duduk dengan teman-teman junior seangkatanku karena semua bangku sudah terisi. Alhasil, aku dan Jieun duduk di bagian senior. Agak gugup juga dikelilingi sunbaenim sunbaenim yang tidak kami kenal.

Aku makan dalam diam sambil memikirkan film National Treasure yang baru kutonton tadi malam. Sungguh sangat keren mencari sebuah harta karun demi membersihkan nama keluarganya. Oh… mungkin nanti malam akan kutonton lagi. Sayang aku belum punya yang nomor dua. Aku ini hobi nonton film. Hampir semua genre film aku suka. Kecuali horror. Sekali aku dengar kata hantu, aku akan langsung menjauh.

Kantin makin lama makin ramai karena orang-orang mulai berbicara. Tapi sekumpulan sunbaenim di belakangku ini berisik sekali sampai aku bisa dengan jelas mendengar percakapan mereka.

“Hyukjae-ah, bangun!!!” kata seseorang sambil menggebrak meja.

“Aish, shireo!” jawab seseorang yang sepertinya bernama Hyukjae itu.

“Biarkan dia. Katanya semalam dia kurang tidur.” suara orang lain.

“Ngapain dia kurang tidur?”

“Biasa kan…”

“Nonton film.” Jawab yang lain serempak.

“Film apa lagi yang kau tonton kali ini?”

“Ah… entahlah,” jawab orang bernama Hyukjae itu lagi. “National Treasure 2?”

NGUING NGUING NGUING NGUING!!!! Alarm filmku berbunyi keras sekali. Aku sangat ingin menontonnya. Aku penasaran dengan kelanjutan ceritanya.

Segera setelah sunbae-sunbae itu pergi, aku juga ikut-ikutan pergi mengikuti mereka. Kasihan Jieun yang kutinggalkan sendiri. Langkah mereka membawaku ke sebuah fakultas yang agak jauh dari Fakultas Bahasaku. Mau tak mau aku bertanya-tanya dimana ini. Sudah dua bulan aku di universitas ini tapi aku belum pernah menjalahinya sama sekali.

Kami masuk ke sebuah gedung bertuliskan FAKULTAS SENI dan ternyata suasananya jauh dari yang kubayangkan. Tempatnya sangat bersih dan tertata rapi. Orang-orangnya juga terlihat ramah. Tidak seperti bayanganku dimana tempat yang kotor dan orang-orang aneh bercampur jadi satu. Mungkin ekspektasiku terlalu jauh. Hehe… ^_^v

Kuperhatikan ada 13 namja yang sedang kuikuti. Whoa… banyak sekali. Jarang-jarang namja jalan bertigabelas. Biasanya kan 5 atau enam. Aku mengenali salah dua dari mereka, Yesung sunbae dan Kangin sunbae yang dulu menjadi pembimbing ospekku. Kangin terlihat sangar. Aku jadi merinding kalau aku nanti aku ketahuan membuntuti mereka. Hii…

Sunbae-sunbae itu pergi ke suatu tempat, dan sepertinya orang yang bernama Hyukjae itu disuruh naik duluan. Aku pun mengikutinya sampai lantai 5, bagian Seni Tari. Tunggu, tunggu, tunggu, apa aku akan melakukan ini? Aish sudahlah. Siapa peduli.

Kutarik nafas dalam-dalam dan berlari ke arahnya. “Annyeong haseyo…” sapaku.

“Oh~ annyeong haseyo…” jawabnya sedikit kaget.

Dan aku lebih kaget lagi ketika melihat wajahnya. Setahuku dia ini Eunhyuk sunbaenim yang terkenal di kalangan junior bersama 12 orang lainnya. Jadi yang tadi itu mereka… Tapi kenapa dipanggil Hyukjae ya? Tahu begini aku tidak usah membuntuti mereka. Oh… na ottokae?

“Ee.. nuguseyo?” tanyanya.

“Mm… Choneun, Kim Minra imnida. Aku seorang junior,” jawabku seadanya.

Ada perlu apa?”

“Eh…” haruskah ku katakan? Rasanya tidak penting.

“Ne?”

“Eh, tadi ku dengar di kantin, semalam kau menonton National Treasure 2 ya? Maaf aku menguping pembicaraan kalian,” kubungkukkan badan. Oh yeah, pertanyaan yang sangat bagus.

“Ah, gwencahanayo. Ne, tadi malam aku menontonnya. Waeyo?”

“Eh… maaf kalau tidak sopan, tapi apakah kau punya filenya?”

“Ne, aku punya. Kau mau minta?” jawabnya enteng.

“Oh, bolehkah?” bagaimana ia bisa membaca pikiranku?

“Tentu saja,” jawabnya sambil tersenyum. Semudah inikah? “Kau suka film action ya?”lanjutnya.

“Iya, di rumah aku punya beberapa.”

“Jinjayo? Bolehkah aku juga minta filenya?”

“Boleh. Jadi kita barter ya, sunbae,” jawabku senang. Mudah sekali bicara dengannya.

“Iya,”jawabnya juga senang. “Oh, aku belum memperkenalkan diriku. Aku Lee Hyukjae, tapi orang lebih mengenalku sebagai Eunhyuk,” ia mengulurkan tangannya.

“Oh…” aku mengangguk-angguk sambil menjabat tangannya. “Senang bertemu denganmu Hyukjae-ssi.”

“Senang bertemu denganmu juga. Jadi kapan kita…”

“Besok akan kubawakan flashdisk,”

“Kalau begitu, bolah aku meminta nomor hp mu?”

“Oh, boleh.” Kuberikan nomor HPku. “Sampai jumpa besok, sunbae. Gamsahamnida…” kubungkukkan badan dua kali.

“Ne, sampai jumpa besok,” katanya. Lalu kami berpisah.

Ah, ternyata berjalan sukses. Aku nekat sekali ya, bicara pada sunbae yang belum aku kenal. Tak sabar untuk menonton filmnya besok!!!!

Sekarang yang aku bingungkan adalah, bagaimana caranya aku bisa kembali ke kantin tadi ya?


*flashback mode off*


Aku masih tertawa mengingatnya.

Ternyata dia memang seperti yang dibicarakan orang-orang. Baik dan mudah berinteraksi dengan orang lain. Dia juga sedikit kekanak-kanakan. Dan ternyata lebih tampan kalau dilihat dari dekat. Hihi… ^^. Cara bertemu kami aneh kan? Tapi aku suka.

Sejak saat itu, kami suka bertukar file film dan menemukan bahwa selera kami sama. Kami selalu nyambung setiap ngobrol dan dia sangat suka bercanda. Kami pun jadi akrab. Sayangnya, karena kami beda fakultas dan banyak tugas, jadi tidak bisa sering-sering.

Suatu hari aku sedang ingin menonton film The Da Vinci Code, aku pun bertanya pada Hyukjae apakah ia punya filenya.


*flashback mode on*


________________

To: Hyukjae

Hyukjae-ssi, apa kau punya film The Da Vinci Code?

________________

To: Minra

Ne, aku punya. Kau mau? Akan kubawakan besok.

________________

To: Hyukjae

Ah, gomawo. ^^

________________


Esoknya, ketika aku bertemu Hyukjae…


“Gomawo, Hyukjae-ssi,” kataku sambil menerima flashdisk pemberiannya.

“Ne, kalau kau punya film baru, tolong di-copy ya!”

“Ok! Aku pulang dulu ya, sunbae. Annyeong!”

“Annyeong!”

Malamnya, aku langsung mengopy file itu ke laptopku dan mengopy film baru ke flashdisk Hyukjae. Setelah menonton The Da Vinci Code – yang sangat keren – dan mematikan laptopku, aku menaruh flashdisk Hyukjae di atas meja belajar, lalu tidur dengan nyenyak.

Esoknya…

KRINGGGGGG!!!!

“Ah… sudah pagi…” kataku sambil bangkit dari tempat tidur, mematikan jam weker, lalu turun ke bawah untuk sarapan. Ketika aku sudah siap untuk berangkat ke kampus, aku kaget karena aku mendapati flashdisk Hyukjae sudah tidak ada di meja belajarku.

Di laci tidak ada, di tumpukan buku tidak ada, di kolong meja juga tidak ada. Aku terus mencari tapi tidak ketemu. Dimana ini??? Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 9. OMO!! Setengah jam lagi aku harus sudah ada di kelas.

Aku berangkat dengan panik karena takut telat dan juga takut karena merasa telah menghilangkan barang orang. Aku hampir jatuh karena tersandung, dan hampir ketinggalan bus. Karena rumahku cukup jauh, butuh sekitar 20 menit untuk sampai di kampus. Untungnya, aku sudah ada di kelas sebelum pelajaran dimulai.

Saat istirahat menjadi saat yang cukup berat, karena kami biasanya bertemu pada saat seperti ini. Aku belum terlalu dekat dengan Hyukjae tapi sudah berani menghilangkan flashdisknya. Aku sih OK OK saja kalau harus mengganti, tapi tetap saja ini hal yang tidak sopan. Dan aku takut kalau dia marah. Semoga dia sibuk. Tapi…

“Minra-ah!” suara seseorang yang sangat tidak ingin kutemui. Kulihat Hyukjae memanggilku dari pintu kantin dengan wajah riangnya. Apa jadinya kalau ia murka?

Dengan langkah gontai aku berjalan ke arahnya, sambil terus menimbang-nimbang apa yang akan kukatakan. “Sunbaenim…”

“Waeyo?”

“Aku…” ottokae? Lebih baik bagaimana? Ah, mengaku lebih baik dari pada berbohong. “Hyukjae-ssi… mianhae… jeongmal mianhae…” Kulihat ia menungguku bicara, terlihat sedikit bingung kurasa. Dan dengan satu tarikan nafas, kukatakan, “Tadi malam aku menaruh flashdiskmu di meja belajarku lalu kutinggal tidur. Tapi ketika aku akan berangkat ke kampus, tiba-tiba flashdiskmu sudah tidak ada. Kucari di segala tempat tapi tetap tidak ketemu. Aku sampai hampir telat tadi pagi. Mianhae, jeongmal mianhae…” aku membungkuk cukup dalam. Semoga ia memaafkanku.

Kudengar ia menghela nafasnya lalu bersandar pada tembok. JLEB! Ia pasti marah. Kudongakkan kepala untuk melihat raut wajahnya.

Dan sejenak, aku terpesona. Entah apa yang terjadi. Hyukjae terlihat… Ah, rasanya seperti di film-film, ketika ada seorang pangeran yang sangat tampan dan baik, yang sangat mempesona sampai bisa membuat lututmu bergetar. Apakah tiba-tiba ada syuting film di sini? Kenapa ada banyak efek cahaya?

“Hh…” ia menghela nafas lagi dan tiba-tiba semuanya terasa nyata kembali. “Sudahlah tidak apa-apa,”

“He?” aku tidak salah dengar? “Kau tidak marah?”

“Buat apa marah?” ia tersenyum, tiba-tiba efek cahaya tadi muncul kembali. Sekarang seperti melihat malaikat turun dari langit. Sumpah, Hyukjae terlihat sangat tampan. Lalu tiba-tiba pipiku merona.

“Minra-ah? Gwenchanayo?”

“Gwe, gwenchana,” Minra-ah! Cepat bangun! “Benar kau tidak marah?” ia menggeleng. “Sunbaenim… aku jadi tidak enak. Kuganti saja ya?”

“Aniyo, tidak usah,”

“Ah, kumohon jangan menolak. Kuganti saja ya? Jebal…”

“Mmm, baiklah…”katanya akhirnya. Dan aku menghela nafas lega. “Ah! Aku punya ide. Kalau kau menggantinya dengan satu pak CD Blank, mau tidak?”

“CD Blank? Boleh. Untuk apa sih?”

“Kau tahu tidak?”

“Mwolla…”

“Ya~! Aku kan belum memberitahumu,” katanya. Aku tertawa.

“Memori laptopku tinggal 300 MB,” lanjutnya.

“Mwo?? 300 MB?” Ia mengangguk. “Pasti penuh film ya?” Ia mengangguk lagi. “Kau mau memburningnya ya?” Ia mengangguk lagi. Dasar.

“Baiklah akan kubelikan. Tapi kau benar-benar tidak marah kan?”

“Anni, harus kubilang berapa kali sih? Aku tidak marah. Lihat raut mukaku,” ia tersenyum sangat cerah tapi sambil memukul-mukul telapak tangannya dengan tangan yang satunya lagi. “Aku tidak marah kan?”

“Ya~! Sunbaenim!”Aku sudah takut dia akan marah tapi dia malah bercanda. Hyukjae hanya tertawa, dan mau tak mau aku pun ikut tertawa. Aku baru sadar kalau bersama Hyukjae pasti sesenang ini.

“Sudah sana pergi! Kutagih hari Senin ya?” katanya sambil ber-hush-hush.

“Ya~! Kau mengusirku? Baiklah, tidak jadi kuganti,”

“Ah, anni anni. Kim Minra yang cantik,” Dia bilang apa? Kurasa pipiku merona lagi. “Tolong belikan aku CD Blank ya? Besok Senin kutagih, OK?”

“OK,” aku terkikik geli melihat perlakuannya yang seperti ini. “Baiklah kalau begitu, sekali lagi maaf sudah menghilangkan flashdiskmu. Gomawo sudah tidak memarahiku. Aku balik dulu ya sunbae,”

“Ne, belajar yang baik ya?” ia mengacak-acak rambutku. Aku hanya bisa tertunduk sambil berusaha menyembunyikan pipiku yang kembali merona dan dadaku yang kali ini tiba-tiba berdetak lebih cepat. Baru kali ini ia menyentuhku.

“N… ne… Annyeong,”

“Annyeong!” aku pun berlalu berlalu masih sambil menundukkan kepalaku.


*flashback mode off*


OMONA! Sekarang aku jadi malu sendiri mengingat diriku saat itu. Entah kenapa aku jadi terus memikirkan Hyukjae dan perasaan suka mulai tumbuh dihatiku.

Hari itu juga, kuseret Jieun ke toko komputer. Entah kenapa kubelikan Hyukjae satu pak CD Blank dengan kualitas yang bagus. Aku pulang ke rumah dan kutaruh CD Blank itu di atas buffet. Seninnya…


*flashback mode on*


“Minra, kau bawa?” tanya Hyukjae tiba-tiba yang entah datang dari mana.

“Bawa apa?” tanyaku kebingungan. “Oh iya! Ya ampun. Sunbae, aku lupa!” Ia berdecak. NGUING NGUING. I’m in danger!!! “Besok kubawakan ya! Sumpah! Aku sudah belik kok! Ya, besok ya?”

“Aish.. Jangan pasang wajah seperti itu, aku jadi tidak tega. Ya sudah, besok ya?”

“Ne, besok. Gomawo Hyukjae-ssi,”


*flashback mode off*


Aku tak tahu apa yang aku pikirkan sampai aku lupa membawanya. Dan aku tak tahu apa yang aku pikirkan lagi sampai aku lupa membawanya esoknya, esoknya lagi, esoknya lagi dan seterusnya. Seperti itu terus sampai dua minggu. Tapi anehnya dia tidak pernah marah. Terbuat dari apakah hati Hyukjae itu? Sepertinya aku jadi tambah suka padanya. Tapi sebenarnya aku juga sih yang kebangetan sampai lupa 2 minggu berturut. Mau tak mau, aku merasa tidak enak juga.

Sampai akhirnya…


*flashback mode on*


Tulitlut tulitlut…

Kulihat layar HPku. Nomor tidak dikenal. Kira-kira siapa ya? Kubuka saja deh.

________________

To: Minra

Minra annyeong! Ngomong-ngomong, ini nomor baruku. Disimpan ya!
Oh, iya, besok jangan lupa, OK?

Hyukjae.

________________


AAA!! Dia mengesmsku! Kalo begini caranya, aku tidak akan lupa. Pasti sunbae! Pasti besok kubawa!

Malam itu, kusuruh seisi rumah mengingatkanku untuk membawa CD Blank pesanan Hyukjae keesokan harinya. Dan ternyata berhasil! Yes!Aku jadi ceria sepanjang hari. Sebenarnya, lebih mirip orang gila sih, karena aku jadi sering senyum-senyum sendiri tanpa sebab. Tapi kan aku sedang… ehm, kasmaran. Hehehe…

Kutunggu Hyukjae di tempat biasa. Tapi dia tak kunjung datang. Padahal dia juga yang mengingatkanku langsung. Tapi kok dia malah tidak mengambilnya.

Jieun yang sedari tadi main entah kemana tiba-tiba datang dan menyeretku pergi.

“Uri odiegayo?” tanyaku.

“Ke taman kampus, temani aku nonton hiburan, ya?” katanya.

“Ha? Memang ada hiburan apa di taman? Nanti kalau Hyukjae-ssi mencariku bagaimana?”

“Sudahlah, kau diam saja. Kau bisa mengsmsnya untuk ketemuan. Aku lagi sendirian nih. Masak kau tidak kasihan padaku? Temani aku OK?”

“Ah.. arraseo,” kataku sedikit tidak rela sebenarnya. Tapi akhir-akhir ini aku jarang main dengan Jieun, dia sering kutinggal sendiri. Kasihan. Kutemani sajalah, untuk menebus kesalahanku.

Ketika sampai di taman, banyak orang berkumpul mengitari sebuah area ditengah taman. “Ada apa sih?”

“Sebenarnya ini alasan mengapa aku mengajakmu kesini,” ujar Jieun. Ha? Sumpah aku tidak mengerti. “Meskipun kau tidak pernah cerita, tapi aku tahu. Kamu suka Hyukjae sunbae, kan?”

“Bagaimana…?” aku hanya kaget sendiri.

“Ah, 6 tahun lebih menjadi sahabatmu masak sampai tidak tahu sifatmu? Ni ya, ku kasih tahu. Kau selalu senang kalau bersamanya. Kau selalu tersenyum kalau ada dia. Kau akan sangat merasa bersalah kalau ia tidak marah. Padahal kau suka tidak peduli dan cuek dengan namja kecuali yang membintangi film-film yang kau tonton. Sudah jelas sekali, Minra. Kau suka…” ia berbisik di telingaku, “Lee Hyukjae.”

“Ah.. omo…” aku speechless. Memang sebegitunya ya?

“Ini adalah pentas pertunjukan dari Fakultas Seni,”

“Jinjayo? Berarti ada…”

“Mm. Benar. Kemarin kau sedikit bad mood karena merasa bersalah padanya. Dan hari ini akhirnya kau membawa CD Blank itu. Aku dengar dia ikut perform, jadi mungkin tidak bisa mengambil CD Blank ini, padahal kau sudah membawanya. Makannya kau kubawa ke sini, supaya kau bisa memberikannya nanti. Sekarang, ayo kita nonton!”ia menarikku ke barisan depan penonton. Kupandangi Jieun dari belakang. Aku baru sadar kalau aku punya sahabat sebaik kamu, Jieun. Gomawo…^^

Sekarang anak-anak seni teater sedang perform sebuah drama klasik korea, entah apa judulnya. Yang jelas, sangat bagus, karena aku dan Jieun yang menontonnya sampai menangis. Akting mereka memang patut diacungi jempol. Tepuk tangan yang sangat meriah terdengar begitu mereka mengakhiri drama tersebut. Johayo.

“Penampilan yang bagus bukan?” tanya MC.

“NE!” jawab penonton.

“Kalian mau lagi?”

“NE!”

“Mau lagi??”

“NE!!”

“Gureom, kami akan menampilkan penampilan terakhir yang akan menutup pertunjukan hari ini. Ini merupakan kolaborasi dari mahasiswa Seni Musik dan Seni Tari,” Penonton berseru-seru. Aku hanya bisa deg degan menunggu. Aku tahu kalau Hyukjae mahasiswa seni tari, tapi aku belum pernah melihatnya menari.

“Kalian siap?”

“SIAP!!!!”

“Kalau begitu, mohon sambutan yang meriah untuk SUPER JUNIOR!!!” aku, Jieun dan penonton lain berseru-seru ketika dua belas namja maju ke tengah. Kenapa cuma berdua belas ya? Setahuku ada 13. Kulihat Hyukjae berdiri di tengah. Kuperhatikan sunbae yang lain. Omo! Itu sunbae-sunbae yang dulu kuikuti! Ha? Kangin sunbae dan Yesung sunbae bisa nge-dance? Wah, unexpected sekali.

Salah seorang diantara mereka memberi tanda pada teknisi, dan musik pun dimulai.

Terdengar suara perkusi yang sangat keras, lalu mereka mulai menari, menepukkan tangan dan menendang-nendang tanah sesuai irama musik. Lalu seorang diantara mereka maju dan ngerap sedikit, diikuti seorang … Hyukjae? Hyukjae bisa ngerap? Aku tidak pernah tahu.

Dua orang lagi mengucapkan beberapa baris lirik lalu musik menjadi semakin keras. Dan pertujukkan yang sesungguhnya dimulai. Hyukjae seperti dilempar ke depan dan dia berpopping dance dengan sangat keren! Setelah itu mereka mulai menyanyikan lagu. Ya ampun… suaranya… aku meleleh.


Naui gobaek achime nun tteosseul ttae bogosipeuneolguldo

Naui gipeun jameun kkaewobeorin saramdo

Geunyeo apeman seomyeon babogateun naingeol

Eotteon maldo hal su eopge sumi makhyeoojanha


Neoui meoritgyeol geu songarak geu misoreul jitneun ipsul kkeutkkaji

Nuguwado bakkul su eomneun geunyeomanui saekkkare nan ppajyeobeoryeosseo

Heeoseutaildo geu nunbitto dokteukhan ne maltukkajido

Nae insaengeul bakkul suga isseulmankeum chungbunhaesseo


[Super Junior – A Man In Love]


Ya tuhan, koreografinya keren sekali! Mereka sangat keren! Lebih keren dari adegan-adegan menegangkan di film. Sekarang aku tak heran mengapa mereka sangat terkenal di universitas.

Tiba-tiba musik berhenti dan terdengar efek-efek suara. Namja-namja itu duduk menyebar di tanah. Seperti menunggu. Lalu tiba-tiba ada hentakan-hentakan baru. Mereka memukul-mukul tanah dan bertepuk-tepuk sesuai irama, lalu berkumpul lagi dan melakukan gerakan-gerakan lain. Aku sekarang baru sadar kalau Hyukjae sangat sering ada di depan dan dia menari dengan sangat lincah. Apa dia lead dancer? Kalau iya, berarti cool sekali!! Rasanya 2 nilai plus langsung bertambah hari ini untuknya. Pertama, dia bisa nge-rap dan kedua, dia bisa menari dengan sangat bagus.

Musik kembali memenuhi udara dan seseorang muncul dari belakang sambil bernyanyi. Ah, ini dia orang ketiga belas! OMO!! Mereka keren!!

Aku dan Jieun hanya bisa ber-wah ria sepanjang pertunjukkan. Lalu ketika musik berakhir, penonton langsung bersorak-sorak. Ah… ramainya sudah seperti nonton konser saja. Aku dan Jieun pun akhirnya ikut bertepuk tangan dan bersorak-sorak.

Ketiga belas namja itu berkumpul dan membungkuk. Lalu mengucapkan “Gamsahamnida” berulang kali pada penonton. Tiba-tiba Hyukjae melihat ke arahku dan sedikit kaget. Tapi dia langsung tersenyum dan melambaikan tangan. Oh… lututku bergetar. Ottokae? Aku hanya bisa membalas senyumannya sambil melambaikan tangan juga. Jieun yang melihat kejadian itu langsung memelukku sambil berjingkrak-jingkrak. Aku sempat speechless, tapi akhirnya ikut berjingkrak jingkrak saking senangnya.

Tapi karena ini aku jadi kehilangan sosok Hyukjae. Padahal niatnya aku akan memberikan CD Blank ini.

Aku berlari ke backstage, tapi tak satu pun dari sunbae-sunbae tadi terlihat. Aku berlari mengitari taman tapi tetap tidak menemukan mereka ataupun Hyukjae. Akhirnya aku pulang sambil bersedih hati. Padahal aku sangat senang hari ini bisa melihatnya menari. Huwuwu…


*flashback mode off*


Tahukah kalian? Setelah itu aku semakin suka pada Hyukjae. Aku memikirkanya seharian. Bahkan aku sampai memimpikannya. >///<

Tapi entah kenapa… (nangis darah) keesokan harinya aku lupa lagi membawa CD Blank yang semalam kutaruh di dalam buffet.


*flashback mode on*


Aku sedang duduk di bawah pohon. Kulihat Hyukjae menghampiriku sambil melambaikan tangan. Aku membalasnya. Kali ini dia datang bersama seorang teman. Aigoo, sekarang aku deg degan. Sudah… bersikaplah biasa.

“Kau bawa?” pertanyaannya setiap hari.

“Kemarin aku bawa, tapi begitu aku mencarimu setelah perform kemarin, kau tidak ada. Aku tidak jadi mengambalikan deh. Sekarang aku lupa, hehehe…” sumpah, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan.

“Ya~! Kemarin kau membawanya? Aish, tahu begini kutagih kemarin pagi!”

“Hihihi,”

“Eh, ngomong-ngomong kau sudah kenal dengan sahabatku ini kan?” Hyukjae merangkul namja di sebelahnya. Kuperhatikan mukanya, kalau tidak salah, dia ini…

“Annyeong haseyo, Lee Donghae imnida,” ucapnya lalu membungkuk.

Oh iya. Donghae sunbae. Kemarin kan dia juga ikut perform. “Annyeong haseyo, Kim Minra imnida,” aku juga membungkuk.

Donghae tiba-tiba seperti mendapat pencerahan, “Oh, jadi kau Kim Minra?”

“Ne Sunbaenim,” kenapa dia tanya begitu?

Donghae berbisik di telinga Hyukjae. Hyukjae seperti mengiya-iyakan Donghae sambil tersenyum gaje, kulihat pipinya sedikit merah. Membicarakan aku ya? Memang aku salah apa? “Waeyo?”

“Aniyo,” jawab mereka berdua berbarengan sambil tersenyum gaje. Ya ampun, sepertinya mereka sudah bersahabat sejak bayi.

“Ngomong-ngomong, kemarin sunbae keren sekali lho,”akhirnya kukatakan.

“Jinjayo? Apakah sudah cukup untuk menarik perhatian yeoja-yeoja?” celetuk Hyukjae diikuti tawa Donghae.

Mwo?? “Ya~! Sunbae! Aku tidak jadi suka ah!”

“Anni, anni… Kemarin itu cuma untuk menggalang dana saja,”

“Oh… “ aku hanya mangut-mangut.

“Minra!! O― Hyukjae-ssi. A-Annyeong haseyo…” Jieun datang entah dari mana dan sepertinya kaget melihat ada Hyukjae dan Donghae di sini.

“Annyeong haseyo,” jawab Hyukjae.

“Eh, Donghae-ssi, perkenalkan, ini sahabatku, Jieun,” kataku.

“N-Ne, sunbaenim. Choneun Hyo Jieun imnida,”

“Lee Donghae imnida,” lalu sepertinya mereka saling pandang atau bagaimana aku tidak tahu karena Hyukjae mengajakku bicara.

“Ya sudah, besok bawa ya? Laptoku sudah kritis nih,” kata Hyukjae.

“Yah, doakan saja semoga aku tidak lupa,” jawabku sekenanya.

“Hu! Dasar. Ya sudah, ayo Donghae!”

“A― Ne,” Kulihat Donghae sedikit kaget, begitu juga Jieun. Lalu mereka seperti salah tingkah sendiri. Hyukjae ternyata ikut memperhatikan kejadian ini. Kami saling pandang lalu terkikik bersama, “Kekeke, dua orang ini tertarik satu sama lain rupanya…”

“Duluan ya, Annyeong!”

“Annyeong!”

Aku menunggu sampai mereka sudah cukup jauh. “Ya~! Kau suka Donghae-ssi ya?” tanyaku to the point pada Jieun.

“Bagaimana kau tahu?”

“Hei, aku ini kan sama saja denganmu. Enam tahun bersama tapi tetap tidak tahu sifatmu itu kebangetan. Sumpah, tadi kalian eye contact ya? Aku agak kaget lho. Menurutku, dia suka padamu juga,”

“Ah, kau ini. Sebenarnya aku suka Donghae sudah agak lama, dan hari ini entah aku dapat berkah apa bisa kenalan dengannya. Ternyata kita sahabat yang perhatian satu sama lain ya?”

“Iya dong!” jawabku PD, lalu kami berpelukan plus cipika cipiki. Maaf, kami memang suka lebai kalau sudah bersama. “Ngomong-ngomong, kita dua sahabat, menyukai dua orang yang juga bersahabat, hahaha, bisa pas ya?”

“Hhh, iya. Eh, tapi, ini cuma pemikiranku saja lho, menurutmu Hyukjae aneh tidak?”

“Aneh kenapa?”

“Dia setiap hari nagih dan bilang kalau sangat butuh, tapi tidak pernah marah kalau kau lupa membawanya,”

“Sebenarnya aku juga berpikiran begitu... Tapi kan dia memang baik!” aku membela Hyukjae.

“Hish, dasar. Tapi masih kerenan Donghae sunbae dong!” Jieun tak mau kalah.

“Ya lebih keren Hyukjae lah!”

“Donghae!”

“Hyukjae!”

“Donghae!”

“Hyukjae!”

“Donghae!”

“Ah! Mereka semua sama-sama keren!” kataku.

“Ahahahaha….” Kami berdua tertawa.

“Ya sudah, yuk, pulang!” Kami pun pulang ke rumah masing-masing.


***


“Yak! Dorong! Terus! Terus!” terdengar suara appa di ruang tamu. “Stop! Ah, Jeongmal gamsahamnida. Sekarang ruang tamunya jadi lebih longgar.”

“Iya, Pak. Sama-sama. Kalau begitu kami permisi dulu ya.” Dua orang yang kukenal sebagai tetangga sebelah keluar dari rumahku. Ada apa sih? Aku segera masuk ke dalam rumah.

“ANDWAE!” teriakku begitu melihat buffet tempat aku menaruh CD Blank itu berpindah tempat dan dibalik depan belakangnya. “ANDWAE! Ya~! Appa! Di dalam situ ada CD Blank temanku!” protesku.

“Siapa suruh menaruhnya disitu?” Sudahkah aku bilang kalau appaku ini kejam?

“Appa~! Lalu bagaimana aku harus bilang ke temanku? Ambilkan… jebal…” aku terus memohon.

“Ambil sendiri,” dengan tak berperasaan ia berjalan ke ruang keluarga.

“Ya~! APPA!” teriakku. Tapi appa tidak merespon. Aish, kalau seperti ini, gimana caranya aku bisa ngasihin CD Blank ini ke Hyukjae???

Aku mencoba mendorong buffet itu tapi tak ada yang bergerak sedikit pun. Buffet ini dari kayu jati dan tinggi 150 cm, isinya banyak pula. Terang saja aku tidak bisa memindahnya. “Oh… na ottokae?” ujarku frustasi. Akhirnya seharian ini aku ngambek sama appa.

Esoknya aku cuma bisa menatap pasrah buffet yang posisinya terbalik itu. Sekarang aku benar-benar merasa tidak enak pada Hyukjae.


***


Aku tidak memberitahu Hyukjae soal ini. Kenapa? Karena aku malu. Yang benar saja. “Sunbaenim, maafkan aku ya. Aku tidak bisa membawa CD Blanknya karena barang itu ada di dalam buffet di ruang tamuku. Kemarin buffetnya dibalik depan belakangnya. Aku minta appa untuk mengambilkannya tapi dia tidak mau. Padahal kalau aku sendiri yang mengambilnya pasti tidak kuat. Maaf ya, hehehe…” Oh, ya, bagus sekali. Mau ditaruh mana mukaku setelah itu?

Akhirnya aku hanya bilang kalau aku lupa. Dan lagi-lagi Hyukjae tidak marah padaku. Tapi rasa tidak enak itu akhirnya muncul kembali. Suatu hari ia meminta film padaku dengan flashdisk BARUnya. Aku menangis dalam hati ketika menerima flashdisk itu. Beruntung aku tidak menghilangkannya lagi. Aku jadi bad mood seharian karena ini. Dia bahkan sudah membeli yang baru, dan aku belum juga mengganti yang lama?


*flashback mode off*


Sebulan berlalu. Tahukah kalian kalau selama itu Hyukjae tetap menagih dan tetap tidak marah? Karena merasa makin tidak enak akhirnya aku sering uring-uringan tanpa sebab yang jelas dan jadi malas bertemu dengan Hyukjae.

Aku kembali bertanya-tanya dalam hati, kenapa ia tidak pernah marah, padahal kalau aku jadi dia, aku sudah sebel sendiri. Kenapa ya? Dan aku mulai setuju dengan pemikiran Jieun yang dulu itu. Ini memang aneh.

Sejenak aku melupakan pemikiran itu karena…


*flashback mode on*


“Nih,” appa menaruh sepak CD Blank di hadapanku. Spontan aku mendelik. Ini CD Blank yang itu. Perasaan bersalah yang selama ini menghantuiku tiba tiba pergi entah kemana.

“Gomawo appa!!!!” kupeluk appaku. Sudahkah aku bilang kalau selain kejam appaku ini juga baik hati?

“Eh, sudah sudah. Sekarang jangan suka uring-uringan lagi ya?”

“Ehm!” aku mengangguk bahagia.


***


Akhirnya aku punya keberanian untuk bertemu Hyukjae. Aku sudah tidak sabar memberikan CD Blank ini padanya. Pasti dia senang. Dia kan sudah menanti selama sekitar 2 bulan. “Hyukjae aku kasih surprise ah! Aku langsung ke fakultas seni saja,” pikirku.

Aku dengan senang berjalan ke Fakultas Seni, naik ke lantai 5. “Hyukjae, I’m coming!!!”

Aku melongok ke setiap ruangan dan akhirnya samar-samar kudengar suara Hyukjae dan beberapa orang lain dari ruang latihan. Langkahku terhenti tepat di depan pintu ketika sadar bahwa mereka sedang membicarakan seseorang. Aku.

“Ya~! Eunhyuk-ah! Kapan kau menembak dia?” sepertinya suara Kangin sunbae.

“Nuguya?” kali ini suara Hyukjae.

“Aish, siapa lagi? Minra, Kim Minra,” dadaku berdegup cepat. Ini apa maksudnya? Apakah ini artinya dia juga suka padaku?

“Iya, hyuk. Kapan? Sudah empat bulan lebih sejak kau suka padanya lho,” suara ini kukenali sebagai suara Donghae. Empat bulan lebih?? Sekarang jantungku mau copot. “Ah, mwollayo. Sepertinya dia tidak tertarik padaku,” Ya~! Siapa yang tidak tertarik padaMU? “Lagipula akhir-akhir ini sepertinya dia jadi aneh kalau bertemu denganku, kenapa ya?” Jeongmalyo? Mungkin karena aku merasa tidak enak padamu. Lain kali aku akan tersenyum dengan cerah. “Mungkin tidak ada kesempatan…”

“Hei, jangan menyerah. Pasti ada kesempatan,” ujar seorang namja yang tak kukenali. Tapi yang jelas, aku mengangguk pasti mengiyakan perkataannya.

“Iya, jangan menyerah dulu. Lagi pula kalian terlihat cocok loh,” seorang namja yang tidak kukenal lagi. Jinjayo?

“Jinjayo?” kata Hyukjae.

“Ehm, kalau kuperhatikan dari jauh, kalian suka ngobrol lamaa sekali,”

“Iya hyung, sudah seperti sepasang kekasih sungguhan,” jantungku benar-benar mau copot.

“Oh, jinjayo?” Hyukjae hanya ber-oh ria.

“Sudah tembak saja dia. Tuh orangnya ada di luar,” DEG! Suara Yesung sunbae. Bagaimana ia bisa tahu aku ada di sini?

“Hyung jangan bercanda,” kata Hyukjae sambil tertawa.

“Eh, beneran! Cek saja di luar kalu tidak percaya,” OMO! Aku harus segera pergi. Tapi terlambat. Seseorang sudah terlebih dahulu menjulurkan kepala.

“O― Eunhyuk-ah!” seorang namja yang ku kenal sebagai Leeteuk sunbae langsung memanggil Hyukjae begitu melihatku. Sekarang aku hanya bisa berdiri mematung. Lalu makin lama makin banyak orang menjulurkan kepalanya. Kangin, Heechul, Ryeowook, Shindong, Kibum, Donghae, Hankyung, Kyuhyun, Sungmin, Siwon, lalu Yesung sunbae. Yesung sunbae, bagaimana kau bisa tahu??

“O― Kim Minra!” ujar mereka hampir berbarengan. Mereka semua tahu kalau aku Kim Minra?

“N-ne, a-annyeong haseyo…” aku membungkuk. Na ottokae…??

“Ye, annyeong” kata mereka lalu menyingkir dari pintu.

Hyukjae pun keluar, “O―Minra?” Aku hanya bisa menunduk. Hening sejenak sampai akhirnya Leeteuk sunbae menepuk-nepuk pundak Hyukjae lalu mengacungkan jempolnya, diikuti yang lainnya.

“Emm, kami pergi dulu ya, mau makan,” ujarnya. Lalu bersama yang lain meninggalkan kami berdua. Bisa kulihat Hyukjae sedikit tidak rela ditinggal.

Oh… na ottokae? Pergi saja lah, “Sunbae, aku pergi dulu ya?”

“Tunggu,” Hyukjae menahanku. “Tunggu, ada yang mau aku bicarakan.” Yak, ini dia.
“Kau tadi mendengar pembicaraan kami ya?” Aku mengangguk. “Berarti kau sudah tahu apa yang mau aku katakan.” Ne, aku tahu, sekarang aku malu. “Tapi sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu,”

Ia menghela nafas. “Sebenarnya,” Iya, sebenarnya… “Aku menyukaimu sejak kau pertama kali masuk universitas ini,” Mwo?? “Aku melihatmu ketika ospek dan aku tak tahu kenapa… langsung suka padamu. Tapi aku tidak berani bertanya soal namamu pada Kangin hyung yang dulu jadi pembimbingmu. Sampai akhirnya kau malah datang sendiri padaku. Aku berpura-pura tidak mengenalimu dan berkenalan denganmu, dan dengan cepat mendapat nomor HP mu. Waktu itu aku senang. Kita jadi kenal satu sama lain, dan kau ternyata orang yang menyenangkan. Aku senang bisa tukar-tukaran film denganmu dan ngobrol macam-macam. Sampai suatu hari kau bilang kau menghilangkan flashdisk ku. Jujur aku sedih dan kecewa, tapi entah kenapa aku tidak bisa marah padamu. Lalu kau dengan senang hati mau menggantinya dengan CD Blank, kecewaku terobati. Tapi ketika kutagih, kau selalu lupa membawanya. Jujur aku kecewa lagi, tapi aku tetap tidak bisa marah padamu. Akhirnya aku menemukan bahwa aku bisa bertemu denganmu setiap hari. Jadi ketika aku menagih, aku juga berharap kau lupa membawanya supaya aku bisa menagihnya besok, dan seterusnya, dan seterusnya. Mungkin aneh, tapi aku memang ingin melihatmu setiap hari. Tapi akhir-akhir ini kau terlihat murung setiap kali bertemu denganku, sejenak aku berpikir untuk berhenti… Ah, apalagi yang harus kukatakan?” ia mengacak-acak rambutnya. Aku hanya speechless mendengar pernyataannya barusan. Semua pertanyaanku terjawab sudah. Aku sungguh tidak menyangka. Sungguh tidak menyangka.

Waktu berlalu dalam kebisuan. Aku kasihan melihatnya dalam ketidakpastian. Minra, katakan sesuatu! Katakan sesuatu!

“Hyukjae-ssi,” ia sedikit kaget dan langsung mendongakkan kepalanya. “Sebenarnya aku juga mau mengatakan sesuatu.” Kutarik nafas, “Alasan mengapa aku terlihat murung akhir-akhir ini karena aku merasa tidak enak pada sunbae. Aku selalu tidak bisa menepati janjiku. Aku jadi tidak enak harus bertemu sunbae. Mianhamnida…” aku membungkukkan badan. Hyukjae sekarang menghela nafas lega.
“Dan aku juga mau bilang,” kutarik nafas lagi, tiba-tiba jantungku berdegup sangat cepat. “Sebenarnya… aku juga suka pada sunbae, jadi―”

Seketika itu juga Hyukjae berlutut di depanku lalu memegang tanganku. “Kim Minra, maukah kau menjadi… yeojachinguku?”

Aku hanya diam saja. Dia menembakku? Dia menembakku? Kulihat ia tersenyum sambil menunggu. Ah.. dia tampan sekali… Kim Minra! Katakan ya! Katakan ya!

“Ya, aku mau,” ujarku mantap. Sejenak hening, hanya detak jentungku yang terdengar sejuta kali lebih keras.

Tiba-tiba Hyukjae bangkit dan memelukku, “Gomawoyo,”

Awalnya aku kaget, tapi perlahan kubalas pelukannya.

“WOOO!!!!!! Eunhyuk-ah!!! Chukaeyo!!!! WOO!!!” Suara ini datang dari arah koridor. Satu persatu, 12 namja itu keluar dari persembunyiannya. Jadi dari tadi mereka menguping?!

Mereka langsung mengerubuti Hyukjae dan memeluknya. Yang menjadi pusat perhatian hanya tersenyum gaje memperlihatkan gusinya yang lucu. Aku tersenyum melihatnya. Dan seketika aku sadar kalau aku sekarang sudah jadi yeojachingunya dan dia sudah jadi namjachinguku. OMO! Aku masih tidak percaya!

Selagi dikerubuti, dia menatapku sejenak lalu berbisik, “Saranghae…”

Aku cuma bisa kaget dan menjawab dengan malu-malu, “Nado…”

*flashback mode off*


Ah, masih tersenyum mengingat akhir yang indah ini. Indah kan? Iya kan? Meskipun awalnya aneh dan tidak seperti film film romance yang kutonton, tapi menuruku bagus. Hehehe… ^^


Uriga mannage doen naru―

________________

To: Minra

Tunggu aku ya, chagi. Sebentar lagi sampai.

________________


Ah, kalau dia bilang sebentar lagi, berarti memang sebentar lagi. Kulihat namja itu datang dari arah kanan. Kulambaikan tangan dan ia membalasnya. Hyukjae langsung berlari menghampiriku lalu mengecup keningku. Bahkan meskipun sudah berkali-kali ia melakukannya, aku tetap deg degan… >///<

“Mau pulang sekarang?” tanyanya.

“Nanti dulu. Ada yang mau kuberikan padamu.” Aku mengambil sebuah kotak berbungkus kertas kado yang kuhias dengan pita warna biru dari tas ranselku. “Saengil Chukae Lee Hyukjae! It’s a present for you!”

Kulihat ia sangat terkejut. “Sekarang tanggal 4 April??” aku mengangguk. Masak dia lupa? “Sumpah, aku benar-benar lupa.”

“Hish, dasar. Sekarang buka kadonya!”

Ia membuka kado yang kuberikan dan terkejut lagi ketika melihat isinya. “Dulu waktu kita jadian, aku sangat senang sampai lupa memberikannya padamu. Jadi kuberikan sekarang. Kau suka?”

“Tentu saja! Aku sudah menunggu barang ini selama 3 bulan tahu!” katanya sambil mengeluarkan sepak CD Blank dari kotaknya. “Gomawo, jeongmal gomawo…” aku hanya tersenyum.


Life couldn't get better (hey~)

nan nol pume ango nara

purun darul hyanghe nara (ho~)

jamdun noui ib machul koya


Ringtone HP ku dan Hyukjae berbunyi pada waktu yang bersamaan. Kami mengangkatnya bersama, “Yoboseyo?”

“Ya~! Eunhyuk-ah, kau bersama Minra ya? Apa Jieun juga di situ?”

“Ya~! Minra-ah, kau bersama Hyukjae ya? Apa Donghae juga di situ?”

Dua orang di seberang sana berbicara di saat yang bersamaan. Aku dan Hyukjae tertawa. Dasar Donghae dan Jieun. Mereka memang jodoh rupanya.

“Ya~! Jawab aku!” kata mereka bersamaan lagi. Kami tertawa. Kenapa mereka tidak jadian sekalian saja sih? Dari dulu malu malu kucing terus. Kekeke~

Hyukjae merebut HPku lalu mengaktifkan loudspeaker HP kami, ia menangkupkan keduanya lalu menaruhnya di tanah.

“Ya~! Minra! Apa Donghae di situ? Dia sedang apa?”

“O― Jieun-ah, kau di situ rupanya,”

“O― Donghae-ssi.”

Aku dan Hyukjae lagi-lagi hanya terkikik geli. Kekeke~

Tiba-tiba hujan turun. Hyukjae berlari ke tengah taman dan aku dengan senang hati mengikutinya. Kami bermain air seperti anak kecil. Kami tertawa bersama, menyenangkan. Hyukjae menatapku agak lama lalu tiba-tiba mencium bibirku sekejap. First kissku. Meskipun hanya sebentar tapi bisa membuat seluruh tubuhku panas. Aku dengan raut muka kaget, menatapnya.

Ia bilang, “And that is a present for you,” sambil tersenyum. Aku pun tersenyum mendengar jawabannya.

Hujan mulai berhenti dan kulihat pelangi di langit.

Ah… hidup memang indah! ^_^


[The End]

Nah, gimana? Bagus ga? Apa jelek? Apa geje? Yah, apa pun itu, tetep harus komen. Mau kritik saran atau pujian (ngarep), semua boleh, yang penting komen. Karena dengan begitu, saya bisa lebih baik lagi. OK? OK?


chagiya: sayang
ne: ya
oppa: panggilan dari cwe ke cwo yang lebih tua atau dari cwe ke pacarnya.
sunbae/sunbaenim: senior
aish: umpatan
shireo: tidak mau, benci
namja: laki-laki
annyeong haseyo: hallo
na: aku (informal)
ottokae: harus gimana ini??
nuguseyo: siapa kamu?
Choneun: aku (formal)
gwenchanayo: tidak apa-apa
waeyo: kenapa?
jinjayo: benarkah?
gamsahamnida: terimakasih
gomawo: terimakasih
omo/omona: ya tuhan
mianhae: maaf
anni/aniyo: tidak
mwolla: tidak tahu
mwo: apa
uri: kita
odiega: mau kemana
arraseo: mengerti, baiklah.
gureom: kalau begitu
yeoja: perempuan
andwae: tidak bisa
appa: ayah
hyung: sebutan dari cwo untuk cwo yang lebih tua
yeojachingu/namjachingu: pacar
nado: aku juga
saengil chukae: selamat ulang tahun
jeongmal ... : ... banyak.

5 komentar:

  1. for dwida,

    ff ini jangan dianggap seirus ato diambil hati lho. ini cuma ff, dan alhamdulillah aku keinspirasi...

    love u, my friend... ^^

    BalasHapus
  2. HAHAHAHAHA NGAKAK PARAAAAAAAAAAAAAAAAAHH!!!
    YaAllah ganyangka aku kalo ada seseorang yg terinspirasi akan kisah hidupku (???)
    hahaha..aku gamarah fik..hehe tenang aja..
    kisah ini emang persis bgt sama kisah kita berdua. tapi sayangnya fik, maaf, kita nggak bisa pacaran. jangan berharap terlalu jauh ya?? :p

    BalasHapus
  3. enggak... siapa yg mau pacaran sama Anda? Juih! *PLAKK!!
    Alhamdulillah g marah. Hehehe...
    Aku kaget lho kamu malah ketawa.

    Menurutmu, ceritanya gimana? Bagus g?

    BalasHapus
  4. saeng.... ini lola eonni...

    wah, bagus loh, siapa tuh yang kemaren bilang2 ga pede?? HARUS PEDE! bagus kok, cepet post di forum-forum yaa biar makin tenar.. hehe^^

    BalasHapus
  5. yang bener onn??
    Wah, aku seneng deh. OK! Aku pede. Ntar aku pos ke FFIndo deh! ^^

    BalasHapus