Senin, 29 November 2010

The Regret

Hi Guys!

Today is almost a bad day. Why? So here is the story...

Hari ini aku bangun pagi dengan tenang dan tanpa firasat apa pun. Aku langsung nge-charge HP. Shalat subuh mandi dan makan seperti biasa lalu berangkat ke sekolah tak lupa membawa HP. Sesampainya di sekolah, ikut jam ke-0 tanpa telat.

Kalau dipikir-pikir, ini merupakan sebuah improvement yang baik untukku. Nah, lalu bencana mulai datang.

Upacara bendera hari ini sepesial karena petugasnya guru-guru, dalam rangka ulang tahun PGRI dan KORPRI. Upacara berjalan cukup lancar meski diwarnai dengan acara ketawa-ketiwi ngeliat guru-guru pada salah. Hihihi... Lalu ketika upacara hampir selesai, tiba-tiba Pak Budi ngadain cek ketertiban. Aku sih biasa-biasa aja karena atributku sudah lengkap. Tapi waktu Pak Budi nyuruh guru-guru razia ke dalam kelas, aku mulai panik. DEG! HPku... Perlu diketahui bahwa di sekolahku dilarang keras bawa HP. Wah, klo HP kena, MATI aku!

Inspeksi di lapangan ternyata berhasil ngumpulin lumayan banyak murid. Aku masih dengan hati yang panik, senyum-senyum gaje ke temen-temen sambil bilang, "HPku di kelas jal..." Mereka pun bilang, "Terus gimana?" Aku cuma diem.

Aku mikir, klo kena, harus diambil ortu, trus nanti disita bapak, dah, habislah sudah hidupku. Jiwaku sudah terenggut. Sumpah ini aku gak lebai. Kalo bapakku marah, udah gak ada yang bisa nglawan.

Dengan was-was aku menunggu upacara selesai dan balik ke kelas. Di kelas, aku rogoh-rogoh tas dan ternyata... aku tidak menemukan HP merah kesayanganku itu. Awalnya aku cengengesan, tapi lama-lama aku duduk pasrah sambil nangis. Hidupku benar-benar sudah terambil. Untungnya temen-temenku nenangin aku. Thanks guys!

Aku melalui hari itu dengan sedikit lega karena ada yang bilang kalau baru pertama kali, boleh diambil sendiri. Menunggu itu ternyata menyiksa. Setelah bel pulang berbunyi, aku dan beberapa temanku yang kena razia jalan ke ruang guru bareng, mencari walikelas kami, Mrs. C.

Ketika kita ketemu, Mrs. C udah niat mau ngasihin, tapi Mr. I tiba-tiba nimbrung dan bilang kalo ketentuan sekolah, HP harus diambil oleh orang tua. Mrs. C pun mulai ngulur-ngulur. Aku merasa, "I'm so gonna dead..." Dan ternyata bener, Mrs. C memutuskan untuk memanggil ortu. And I'm DEAD.

Air mataku udah mulai keluar, kuusahain sekuat tenaga biar gak tumpah. Tapi apa daya waktu disuruh telpon orang tua, aku gak berani dan malah jadi mewek dalam diam. Dilihatin orang banyak juga. Sumpah malu. Tapi gak tahu kenapa kesedihan yang ada menghapus segalanya. Setelah kuberani-beraniin, aku nelpon rumah. Yang ngangkat bapak, aku pun langsung bilang, "ibu mana?" Dan aku pun bicara ma Ibu. Aku udah disukur-sukurin. Sedih banget. Terus waktu bilang suruh diambil besok, aku mewek lagi.

Ada guru satu lihat aku nangis, terus tanya, "Kenapa?" Aku cuma gedek" sambil senyum. Aku gak berani jawab. Trus, MUNGKIN, karena lihat aku nangis, Mrs. C dan guru itu ngobrol agak lama.

Karin, salah satu anak bisa dibilang mbelain aku, "Ini anak alim bu. Baru sekali bawa, sekali kena, bu..." Thanks Karin!

Terus, Juju nenangin aku (Thanks Ju), habis itu cerita ke Nia kenapa aku nangis. Dan aku malah mewek lagi....

Dan akhirnya Mrs. C bilang, "Ini toleransi, pertama dan terakhir. Boleh dibawa pulang, tapi bikin surat pernyataan tidak akan membawa HP lagi oleh orang tua, dikumpulkan besok,". Trus Mrs. C nyerahin HP satu".

Did a miracle come? Yes, it did. 

Sejenak air mataku berhenti mengalir. Dan aku bilang, "Makasih bu, makasih bu, makasih bu..." berkali-kali.

Dan entah kenapa aku berjanji gak bakal bawa HP lagi. Ini beneran. Aku gak bakal bawa HP lagi.

Hari ini merupakan palu besar yang menghantam kepalaku dengan keras. Membuatku sadar. Kalo ini salah. Dan semoga aku bisa pegang janjiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar